
Ali Akbar Muhammad | Ketua DPW SPI Maluku Utara | Penulis Buku Revolusi Kaum Tertindas | Pengurus Bidang Ideologi DPN FSBPI
Kapitalisme sebagai Akar Masalah: Perspektif Ekonomi-Politik
Bagi penulis, akar dari berbagai kompleksitas permasalahan sosial, ekonomi, dan ekologis yang terjadi di atas bukan semata-mata disebabkan oleh kehadiran industrialisasi, ekspansi perusahaan tambang, atau lemahnya tanggung jawab negara. Jika ditelaah lebih dalam menggunakan analisis ekonomi-politik, akar persoalan tersebut bersumber dari sistem kapitalisme itu sendiri. Logika utama dari sistem kapitalisme ialah akumulasi modal atau akumulasi tampa batas.Dalam logika sistem kapitalisme, kerja manusia tak didistibusikan untuk kesejahteraan manusia dan pelestarian alam, melainkan untuk mendongkrak keuntungan bagi pemodal. Karen itulah sebabnya masyarakat yang kehilangan tanah dan lautnya tidak mendapatkan kesejahteraan, melainkan keterasingan dari sumber-sumber kehidupannya sendiri.
Praktek kapitalisme yang terjadi di Kabupaten Halmahera Tengah, Kecamatan Weda Tengah, Desa Lelilef Sawai, Desa Waibulan dan desa lingkar tambang lainnya, secara historis memiliki kemiripan atau serupa dengan yang pernah terjadi pada masa awal perubahan dari feodalisme ke kapitalisme di Eropa Barat. Dalam sejarah masyarakat Inggris, proses ini dikenal sebagai Enclosure, yakni proses pengkaplingan lahan dengan model kepemilikan absolut khas borjuasi beserta pengusiran kaum tani penggarap. Proyek-proyek Enclosure yang pernah terjadi di kampung halamannya kapitalisme Eropa Barat saat itu, kini berulang hingga sekarang di negeri-negeri pinggiran kapitalis seperti Halmahera Tengah dan beberapa wilayan di Indonesia.
Proses pemisahan petani-masyarakat adat dari tanah garapan atau sarana produksi, kemudian menciptakan konfigurasi kelas sosial yang timpang. Masyarakat Halmahera Tengah terbelah menjadi dua lapisan sosial, yaitu mereka yang mempunyai modal serta sarana produksi dan mereka yang hanya memiliki tenaga kerja untuk dijual. Dalam kerangka pemikiran Marx, lapisan kelas yang pertama sebagai kapitalis, karena mereka menguasai dan hidup dari sekadar memiliki kapital (sarana produksi dan modal), sedangkan lapisan kelas yang kedua adalah proletariat, karena tidak menguasai apapun selain tenaga dan kemampuannya untuk bekerja demi bertahan hidup (Baca: Karl Marx, Akumulasi Primitif). Sebagian besar masyarakat lingkar tambang di Halmahera Tengah, seperti Yulius Burnama, Max Sigoro, Ramli dan Veri yang dahulu hidup dari bertani dan melaut, kini terjebak dalam proses proletarisasi. Mereka kini menjadi lapisan kelas kedua (proletar) akibat format kapitalisme pertambangan. Kelas buruh proletariat dilingkaran industri tambang tanpa lagi memiliki kotrol atas alat produksi tanah, laut dan bahkan atas waktu dan hidup mereka sendiri.
Demikianlah mengapa kehadiran perusahaan tambang di Halmahera Tengah, tujuannya bukan untuk mensejahterakan masyarakat tapi justru memperkaya segelintir orang. Tentunya yang mendapatkan untung dari semua proyek pertambangan adalah para kapitalis yang berkelindan dengan oligarki nasional-lokal-militerisme dan antek-anteknya. Sedangkan masyarakat hanya akan mendapatkan pemiskinan dan menaggung beban pengrusakan alam. Inilah bentuk penjajahan baru yang dilakukan ole sistem ekonomi-poliitk kapitalisme yang secara sistematis mengorbankan manusia dan alam demi profit.
Referensi Bacaan:
Agung Ghani Kramawijaya, Kajian Emisi Partikulat Dan Gas Dari Suatu Pertambangan Nikel Di Halmahera Tengah, Jurnal Rekayasa Hijau, No.2 | Vol. I Juli 2017
Asdan,Syafri,Baso Jaya, Strategi Adaptasi Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal Pada Sekitar Kawasan Pertambangan PT Indonesia Weda Bay Park, Postgraduate Bosowa University Publishing, 2023
Anto. Sangaji, (2011, September). Penembakan Tiaka dan akumulasi primitif. IndoProgress.
https://indoprogress.com/2011/09/penembakan-tiaka-dan-akumulasi-primitif
Ady Putong, (8 Januari 2024),Orang Sawai Melawan Miskin https://barta1.com/2024/01/08/orang-sawai-melawan-miskin
Badan Pusat Statistik Kabupaten Halmahera Tengah, Kecamatan Weda Tengah Dalam Angka 2024
Nexus3, Universitas Tadulako, Dampak Lanjutan dari Aktivitas Industri Nikel di Teluk Weda, Halmahera Tengah, Maluku Utara, Indonesia, April 2025
Hadi Jatmiko, Walhi, Materi Presentasi Rekam Jejak Kasus Pertambangan Di Indonesia
JATAM, Penaklukan dan Perampokan Halmahera: IWIP sebagai Etalase Kejahatan Strategis Nasional Negara-Korporasi,2024
JATAM. (2023, 19 April). Petaka di balik undangan investasi Jokowi ke perusahaan Eropa.https://jatam.org/id/
Masri Anwar, Petani dan keinginan merebut kembali tanahnya, Tonggak Media, Cetakan 2018
Massimo de Angelis, Karl Marx, Akumulasi Primitif: Pondasi Kapitalisme, Resist Book, Cetakan 2023
Mahmud. Ichi, (2022, 8 Juni). Tambang ‘unggul’ di Maluku Utara: Ekonomi tumbuh tetapi daerah tak rasakan hasil, warga miskin. Mongabay Indonesia.
https://mongabay.co.id/2022/06/08/tambang-unggul-di-maluku-utara-ekonomi-tumbuh-tetapi-daerah-tak-rasakan-hasil-warga-miskin
Mahmud. Ichi,( 28 Januari 2021) Warga Adat Sawai Halteng, Perda MA vs Omnibuslaw.
https://kabarpulau.co.id/warga-adat-sawai-halteng-perda-ma-vs-omnibuslaw
Musa. Talutama, (2019, 22 April). Kapitalisme merusak bumi dan solusi sosialis. Arah Juang.
https://www.arahjuang.com/2019/04/22/kapitalisme-merusak-bumi-dan-solusi-sosialis
Rabul Sawal, Kala Ruang Hidup Orang Sawai Hilang Jadi Industri Nikel, 10 Feb 2025.
https://mongabay.co.id/2025/02/10/kala-ruang-hidup-orang-sawai-hilang-jadi-industri-nikel
Shiddiq, Yudi Santoso: Total Tiga Tahapan Investasi IWIP US$ 19,1 Juta | Media Nikel Indonesia.
https://nikel.co.id/2022/12/02/yudi-santoso-total-tiga-tahapan-investasi-iwip-us-191-juta
Baca Juga: Bagian V : Ketika Tambang Tumbuh Subur, Ekologi Hancur dan Air Mata Mengalir
Baca Juga : Bagian IV : Ketika Tambang Tumbuh Subur, Ekologi Hancur dan Air Mata Mengalir
Baca Juga : Bagian III : Ketika Tambang Tumbuh Subur, Ekologi Hancur dan Air Mata Mengalir
Baca Juga : Bagian II : Ketika Tambang Tumbuh Subur, Ekologi Hancur dan Air Mata Mengalir
Baca Juga: Bagian I : Ketika Tambang Tumbuh Subur, Ekologi Hancur dan Air Mata Mengalir