![]() |
| Penulis Ali Akbar Muhammad | Lukisan Hugo Chavez, Nick Dobrejevic |
Media-media besar yang berafiliasi dengan Amerika Serikat, seperti CNN,Ruters,The Times, Wash Post dan Wsj, beserta para buzzer-nya, kembali menunjukkan pola kerja mereka dalam membela kepentingan tuannya. Kali ini, sasaran empuk mereka adalah Venezuela. Upaya sistematis untuk memojokkan Republik Bolivarian ini adalah bagian dari skenario lama: mendiskreditkan setiap negara yang berani menentang hegemoni dan imperialisme AS.
Amerika Serikat, dalam banyak hal, merupakan aktor utama di balik berbagai peperangan, kekacauan, dan pemiskinan di seluruh dunia. Venezuela dan banyak negara Amerika Latin lainnya, terang-terangan menolak kapitalisme neoliberal dan imperialisme AS dan membangun Sosialisme. Latar belakang agresi militer yang diinisiasi oleh pemerintahan Donald Trump dan berlanjut hingga kini tidak lepas dari dua hal: penolakan Venezuela terhadap dominasi AS, dan kekayaan minyak bumi yang dimilikinya. Inilah yang diincar oleh negara teroris AS.
Kebrutalan rezim Amerika Serikat telah berlangsung puluhan tahun. Mulai dari menciptakan kekacauan di Timur Tengah, termasuk mendukung pendudukan Zionis Israel atas Palestina, embargo ekonomi yang kejam terhadap Kuba, provokasi di Ukraina, intervensi dan dukungan kudeta terhadap Presiden Soekarno di Indonesia, hingga monopoli sistem ekonomi global yang memiskinkan mayoritas penduduk dunia. Pola yang sama kini diterapkan kembali ke Venezuela melalui pemboman dan aksi penculikan terhadap Presiden Nicolas Maduro.
Sebelumnya, AS juga aktif memprovokasi Taiwan untuk melawan China dan mendorong Israel untuk menyerang Iran pada tahun 2024. Namun, apakah rakyat Venezuela akan diam? Tentu tidak. Berita pada 3 Januari 2026 menyatakan, rakyat Venezuela membanjiri jalan-jalan di seluruh negeri untuk memprotes agresi militer AS ini. Solidaritas juga mengalir dari gerakan rakyat dunia dan berbagai negara, seperti China, Rusia, dan Kuba, yang bersama-sama mengutuk tindakan AS.
Intervensi AS terhadap Venezuela bukanlah hal baru. Ini berawal sejak era Hugo Chavez. Saat itu, AS mencoba menciptakan boneka melalui kudeta militer, namun upaya itu digagalkan oleh rakyat Venezuela yang turun ke jalan hanya dalam 48 jam. Pola serupa terulang di era Nicolas Maduro dengan percobaan kudeta oleh Juan Guaidó yang didukung AS. Negara mana pun di Amerika Latin dan dunia yang terbuka menentang kapitalisme dan imperialisme AS, akan selalu menjadi target perang, kudeta, dan penghancuran.
Pada 3 Januari 2026, Republik Bolivarian Venezuela secara resmi mengeluarkan pernyataan: “Kami menolak, menyangkal, dan mengecam di hadapan komunitas internasional agresi militer berat yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat terhadap wilayah Venezuela dan penduduknya di Caracas, serta negara bagian Miranda, Aragua, dan La Guaira. Tindakan ini merupakan pelanggaran mencolok terhadap Piagam PBB, khususnya Pasal 1 dan 2, yang menjamin kedaulatan, kesetaraan hukum, dan larangan penggunaan kekerasan. Agresi ini mengancam perdamaian dan stabilitas regional serta membahayakan nyawa jutaan orang.”
Melalui media independen seperti Venezuelanalysis.com, gerakan rakyat Venezuela dan dunia menyuarakan kutukan terhadap pemboman dan penculikan ini. Wakil Presiden Venezuela menegaskan bahwa Nicolas Maduro adalah satu-satunya presiden yang sah, menolak menjadi koloni AS, dan mengutuk tindakan agresif tersebut.
Sementara itu, media seperti Albamovimento menyoroti propaganda hitam AS. Narasi media arus utama yang menuduh Maduro memanipulasi pemilu atau terlibat konspirasi narkoba dan terorisme adalah kedok belaka. Intinya adalah perampasan sumber daya minyak Venezuela dan Karibia, serta memakai doktrin Monroe untuk menghidupkan kembali kolonialisme di wilayah tersebut.
Fakta-fakta ini membuktikan bahwa Amerika Serikat adalah negara teroris, penjajah, dan penindas sejati. Kebrutalannya yang terus berulang tidak boleh dibiarkan. Sudah waktunya rakyat di seluruh dunia bersatu dan secara kolektif melawan agresi serta ketidakadilan yang dipropagandakan oleh AS dan sekutunya.(*)
