Udara Weda terasa akrab bagi Bahri Sudirman. Di sinilah segalanya berawal, di Kecamatan Weda, Kabupaten Halmahera Tengah ini, seorang anak dari keluarga sederhana memulai perjalanan panjang yang akan membawanya menjadi salah satu pilar penting pemerintahan daerah. Jejak hidupnya adalah mozaik dedikasi, pembelajaran tiada henti, dan kepercayaan yang dibangun setahap demi setahap.
Pendidikannya dimulai dari tanah kelahirannya, sebelum ia merantau ke Tidore untuk menuntaskan sekolah menengah atas pada 1990. Minatnya pada ilmu pengetahuan membawanya ke Universitas Khairun (Unkhair), lalu berpuncak pada pencapaian gelar magister dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada 2009, sebuah bekal akademis yang kokoh untuk dunia birokrasi yang akan digelutinya.
Kariernya dimulai dari posisi yang paling fundamental: sebagai ASN yang mengemban tugas sebagai Kepala Seksi Trantib di Kantor Camat Weda Selatan. Di garis depan inilah karakter dan kompetensinya terasah. Ketekunan dan keberhasilannya, kemudian ia dipromosikan menjadi Camat Kecamatan Pulau Gebe. Memimpin kecamatan tersebut dengan pemahaman mendalam selama satu setengah tahun. Kepemimpinan di akar rumput ini menjadi sekolah pertama yang mengajarkannya arti pelayanan yang sesungguhnya.
Perjalanan birokrasinya kemudian menanjak dengan ritme yang stabil dan penuh tanggung jawab. Setelah sukses memimpin kecamatan, ia dipercaya mengelola Bidang Pemerintahan di tingkat kabupaten. Tak berselang lama, amanah yang lebih besar datang: memimpin Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil selama hampir lima tahun. Pada setiap posisi, reputasinya sebagai pengelola yang andal semakin tertempa. Di Dinas Capil, ia berhadapan langsung dengan hak-hak dasar warga, belajar bahwa administrasi yang rapi adalah bentuk nyata pengakuan negara atas keberadaan seorang individu.
Puncak kepercayaan pertama kali datang pada masa kepemimpinan Pj. Bupati Ikram Malan Sangadji. Bahri Sudirman ditugasi memimpin Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM, mengelola aset terpenting pemerintah: sumber daya manusianya. Lebih dari tiga tahun di posisi ini mengukuhkannya sebagai birokrat yang memahami kompleksitas kelembagaan. Ia tak hanya mengurusi mutasi dan promosi, tetapi juga membangun kapasitas, menyadari bahwa birokrasi yang berkinerja tinggi dibangun dari SDM yang kompeten dan bermotivasi.
Pada 8 Maret 2024, sebuah penanda sejarah dalam kariernya tiba. Di tangan yang sama, Pj. Bupati Ikram M. Sangadji, Bahri Sudirman dilantik sebagai Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Halmahera Tengah. Namun, perjalanan takdirnya masih menyisikan satu episode unik. Kepercayaan itu meluas hingga ke tingkat nasional ketika Menteri Dalam Negeri, M. Tito Karnavian, menganugerahinya amanah sebagai Penjabat Bupati Halmahera Tengah. Ia menggantikan, Ikram Sangadji, yang memutuskan turun untuk berkontestasi dalam Pilkada 2024. Dalam periode singkat namun krusial ini, Bahri menjadi penjaga stabilitas pemerintahan, memastikan transisi politik berjalan mulus tanpa mengganggu roda pembangunan.
Setelah Ikram Sangadji terpilih kembali untuk periode 2024-2029, roda berputar pada tempatnya. Dengan semangat yang sama, Bahri Sudirman kembali dilantik sebagai Sekda, menjadi tangan kanan utama Bupati dalam mengelola pemerintahan. Pengalaman singkatnya sebagai Pj. Bupati justru memperkaya perspektifnya, memberinya pemahaman holistik tentang tantangan kepemimpinan daerah, yang kini ia transformasikan menjadi strategi administrasi yang lebih tajam dan berpihak.
Di balik serangkaian jabatan prestisius itu, terselip jiwa seorang putra asli Fagoguru. Gaya kepemimpinannya kerap digambarkan tenang, bijak, dan cerdas. Ketenangannya bukanlah pasifitas, melainkan kedalaman berpikir. Kebijakannya terlihat dalam pengambilan keputusan yang selalu mempertimbangkan kemaslahatan. Kecerdasannya tercermin dari cara ia mengelola manajemen pemerintahan yang efektif.
“Kedisiplinan dan amanah” adalah mantra yang terus didengungkannya pada jajaran birokrasi. Baginya, pemerintahan hanya dapat maju jika dijalankan dengan integritas dan komitmen terhadap tugas. Namun, di sisi lain, ia bukanlah pemimpin yang tertutup. Selalu ada ruang koordinasi yang terbuka lebar di meja kerjanya baik untuk rekan sejawat, bawahan, maupun masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi. Prinsipnya jelas: birokrasi harus solid, tetapi juga harus terhubung dan mendengar. Dalam setiap rapat, ia sering mengingatkan bahwa di balik setiap berkas dan regulasi, ada wajah-wajah warga Halmahera Tengah yang menanti pelayanan.
Bahri Sudirman memberikan pelajaran tentang kesetiaan dan kemitraan. Hubungannya dengan Bupati Ikram Sangadji bukan sekadar hubungan atasan-bawahan, tetapi simbiosis mutualisme yang dibangun atas dasar kepercayaan dan visi yang selaras. Bahri adalah operator yang andal bagi visi sang pemimpin, sementara sang pemimpin memberikan ruang dan kepercayaan penuh bagi profesionalismenya. Dinamika ini menciptakan stabilitas yang langka dalam politik lokal.
Kini, sebagai Sekda, tanggung jawabnya kian berat. Ia menjadi poros yang menghubungkan kebijakan politik dengan eksekusi birokrasi, memastikan program-program pembangunan Bupati terimplementasi dengan tepat sasaran, efisien, dan akuntabel. Setiap hari, ia menyelami laporan, mengkoordinasikan dinas, dan memecahkan kebuntuan, dengan kesadaran bahwa waktu yang dimilikinya adalah amanah untuk mengabdi.
Bahri Sudirman menunjukan tentang kesetiaan pada tanah kelahiran dan evolusi seorang pelayan publik sejati. Dari anak Weda yang menuntut ilmu ke pelosok negeri, hingga menjadi Sekda yang menjadi penyambung lidah antara kepemimpinan politik dan denyut nadi birokrasi.
Ia adalah bukti bahwa dalam ruang yang sering dianggap kaku, kepemimpinan yang humanis, disiplin, dan inklusif dapat tumbuh subur, memberikan fondasi yang kuat bagi pembangunan Halmahera Tengah yang berkelanjutan. Ia menginspirasi bahwa karier birokrasi, ketika dijalani dengan hati, integritas, dan kecerdasan, mampu menjadi jalan pengabdian yang paling mulia.
Tulisan ini merupakan hasil penelusuran dan pengamatan dari ruang redaksi(*)
