Penulis: Arman Alting (Kepala BKPSDM Halmahera Tengah)
Bulan suci Ramadhan 1447 H telah hadir kembali, membawa berkah dan ampunan bagi seluruh umat Islam di penjuru dunia. Kini, kita semua tengah menjalankan ibadah puasa dengan penuh keikhlasan dan harapan akan ridha Allah SWT. Puasa merupakan kewajiban yang telah ditetapkan bagi setiap Muslim yang beriman, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." Ayat ini dengan jelas menegaskan bahwa tujuan akhir dari ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan untuk mencapai derajat takwa, yaitu kesadaran penuh akan kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan.
Di bulan yang mulia ini, kita tidak hanya dituntut untuk meningkatkan kualitas ibadah pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi penerus, khususnya anak-anak kita. Membiasakan puasa sejak usia dini menjadi langkah strategis dalam pembentukan karakter dan kepribadian Islami mereka. Dengan pengenalan dan pembiasaan yang tepat, kelak anak-anak akan mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik, lancar, dan penuh kesadaran. Tentu saja, pendekatan kepada anak-anak tidak bisa disamakan dengan orang dewasa. Mereka masih dalam tahap belajar dan membutuhkan metode yang gradual serta penuh kasih sayang.
Dalam praktiknya, masyarakat kita mengenal beberapa cara untuk mengenalkan puasa kepada anak-anak. Pertama, puasa setengah hari, yaitu anak-anak dilatih untuk menahan lapar dan dahaga mulai dari waktu subuh hingga waktu zuhur (sekitar pukul 12 siang), lalu mereka diperbolehkan berbuka. Metode ini efektif untuk melatih fisik dan mental anak secara bertahap. Kedua, ada cara yang lebih longgar, yaitu membiarkan anak tetap mengonsumsi makanan, baik makanan harian maupun jajanan, meskipun mereka sedang menjalankan puasa. Cara inilah yang kemudian dalam tulisan ini disebut sebagai "PUASA TETO".
Istilah "Teto" sendiri diambil dari kebiasaan ayam peliharaan yang dengan patuh memakan makanan yang diberikan oleh tuannya. Analogi ini digunakan untuk menggambarkan perilaku anak-anak yang masih sesekali makan atau ngemos saat menjalani puasa. Mereka seperti ayam yang setiap kali diberi makan oleh tuannya, langsung menyambutnya tanpa banyak pertimbangan. Dengan kata lain, "Puasa Teto" adalah istilah jenaka namun penuh makna untuk menggambarkan proses belajar puasa pada anak-anak yang masih dalam tahap awal. Mereka sedang berusaha, meskipun belum sempurna, dan itu adalah bagian dari proses pembelajaran yang wajar.
Namun, muncul pertanyaan penting: Apakah "Puasa Teto" juga berlaku untuk orang dewasa? Pertanyaan ini menggelitik sekaligus serius untuk direnungkan. Dalam pandangan saya, istilah "Puasa Teto" tidak tepat dan tidak seharusnya disematkan kepada orang dewasa. Orang dewasa, khususnya yang telah memenuhi syarat wajib puasa, memiliki kewajiban penuh untuk menjalankan ibadah ini sesuai dengan tuntunan syariat. Puasa bagi mereka bukan lagi sekadar latihan, melainkan ibadah wajib yang harus dilaksanakan dengan penuh kesungguhan dan kesadaran.
Jika ada orang dewasa yang perilakunya sama persis dengan anak-anak, yakni menjalani puasa tetapi masih "sesekali makan" atau dengan sengaja melanggar ketentuan puasa, maka mereka pantas disebut sebagai pelaku "TETO PUASA", bukan "PUASA TETO". Mengapa demikian? Karena dalam konteks orang dewasa, perilaku tersebut bukan lagi bagian dari proses belajar, melainkan telah mencederai nilai-nilai luhur ibadah puasa itu sendiri. Mereka seperti ayam yang terus-menerus diberi makan dan tanpa berpikir panjang langsung menyantapnya. Bedanya, "Teto Puasa" adalah kritik tajam terhadap orang dewasa yang menyia-nyiakan kesempatan emas di bulan Ramadhan, yang puasanya hanya sebatas menahan lapar dan dahaga secara fisik, namun tidak mampu menahan hawa nafsu dan menjaga nilai-nilai kesucian puasa.
Esensi puasa bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala perbuatan dosa, perkataan sia-sia, dan pikiran kotor. Orang dewasa yang masih "makan" dalam arti luas entah itu makan makanan haram, ghibah, dusta, atau perbuatan tercela lainnya berarti ia telah gagal memahami makna hakiki puasa. Ia mungkin berhasil menahan lapar fisik, tetapi gagal menahan lapar spiritual. Inilah yang disebut "Teto Puasa": berpuasa secara formal, tetapi hampa secara substansial.
Di sisi lain, kita patut mengapresiasi anak-anak yang sedang belajar puasa dengan metode bertahap. Mereka adalah generasi penerus yang kelak diharapkan menjadi pribadi-pribadi bertakwa. Untuk mereka, "Puasa Teto" adalah fase awal yang wajar dan perlu didukung dengan bimbingan serta teladan dari orang tua dan lingkungan. Sedangkan bagi kita yang sudah dewasa, sudah seharusnya kita memberikan contoh terbaik dalam menjalankan ibadah puasa, bukan malah meniru perilaku anak-anak yang belum sempurna. Kita harus menjadi "Teto" yang baik dalam arti patuh kepada perintah Allah, bukan "Teto" dalam arti lemah dan mudah tergoda.
Maka, mari kita renungkan kembali makna puasa kita di bulan yang suci ini. Apakah puasa kita termasuk dalam kategori "Puasa Teto" yang merupakan proses pembelajaran, atau justru jatuh pada kategori "Teto Puasa" yang mencederai nilai-nilai kesucian Ramadhan? Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang berhasil meraih predikat takwa, sebagaimana tujuan utama disyariatkannya puasa.(*)
