![]() |
| Ilustrasi: Tirto Adi Suryo dan Boki Fatimah |
Jauh sebelum kemunculan Boedi Utomo, dalam novel Sang Pemula karya Pramoedya Ananta Toer, telah digambarkan sosok penting bernama Tirto Adi Suryo. Ia merupakan pelopor awal kebangkitan nasional yang sering luput dari sorotan umum. Tirto Adi Suryo adalah seorang tokoh visioner yang membangun organisasi modern pertama bernama Sarekat Priyayi.
Organisasi ini kemudian bertransformasi menjadi Sarekat Dagang Islam, dan selanjutnya berubah menjadi Sarekat Islam yang pada zamannya menjadi organisasi modern terbesar selama masa penjajahan Hindia Belanda.
Namun, perjalanan Sarekat Islam tidak selalu mulus. Organisasi ini kemudian terpecah menjadi dua kubu besar, yaitu Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah. Sarekat Islam Merah selanjutnya bertransformasi menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), yang kelak memainkan peran penting dalam gerakan-gerakan radikal melawan kolonialisme.
Novel Sang Pemula menggambarkan bagaimana Tirto Adi Suryo menjadi figur sentral yang kemudian mendorong lahir dan menjamurnya berbagai organisasi modern pada masa Hindia Belanda. Berkat pengaruh dan perintisannya, muncullah berbagai perkumpulan yang bersifat nasionalis, agamais, hingga komunis.
Termasuk di dalamnya adalah lahirnya Boedi Utomo organisasi yang kerap diperingati sebagai cikal bakal Hari Kebangkitan Nasional setiap tanggal 20 Mei.
Selain aktif membangun organisasi pergerakan, Tirto Adi Suryo juga merupakan pelopor media atau pers modern pertama di Indonesia. Media tersebut diberi nama Medan Priyayi. Keberaniannya dalam menerbitkan koran menjadi tonggak awal lahirnya jurnalisme kritis yang menyuarakan kepentingan pribumi.
Tak hanya itu, Tirto juga memiliki istri yang berasal dari Bacan, Halmahera Selatan, Maluku Utara, bernama Boki Fatimah atau yang lebih dikenal sebagai Putri dari Kasiruta (Princess van Kasiruta).
Sosok istrinya ini juga luar biasa, karena ia merupakan perempuan pertama di Indonesia yang turut membangun media atau koran, yaitu Poetri Hindia. Kehadiran media ini menjadi bukti bahwa perjuangan emansipasi perempuan dan pers sudah dimulai sejak era awal kebangkitan nasional.
Tirto Adi Suryo adalah sang pemula sejati yang berhasil membangkitkan kesadaran nasionalisme di kalangan rakyat Indonesia. Dari perintisannya itulah kemudian menjamur berbagai organisasi modern dengan beragam ideologi baik yang berbasis agama, nasionalisme, maupun komunisme.
Semua gerakan itu akhirnya menjadi fondasi yang membawa Indonesia menuju kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Dengan demikian, peran Tirto tidak bisa dilepaskan dari mata rantai panjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia.(*)
