![]() |
| Oleh :Chrisnasius Djaga, Ketua Himpunan Mahasiswa Filsafat keilahain 2025/2026 |
Berangkat dari definisi solidaritas, solidaritas merupakan sifat atau perasaan solider, setia kawan, senasib sepenanggungan, dan persatuan antara orang-orang yang didasarkan pada tujuan, kepentingan, atau nilai-nilai bersama.
Memaknai hal itu, mahasiswa merupakan eksistensi, yaitu wujud keberadaan dan peran aktif peserta didik perguruan tinggi sebagai agen perubahan (agent of change), kontrol sosial (social control), dan agen intelektual (agent of intellectual).
Akhir-akhir ini, ketika melihat dinamika aktivitas sekelompok mahasiswa, telah terjadi kemunduran jiwa solidaritas dan sosial. Hal itu terbukti karena mereka lebih betah dan nyaman di zona-zona "membungkam pikiran, mulut, dan tindakan".
Hal ini dibuktikan dengan rilisan Kompasiana.com: "2026, mahasiswa yang dulu dikenal sebagai garda terdepan dalam perjuangan sosial kini tampak kehilangan arah, terjebak dalam pragmatisme dan ketidakpedulian."
Mahasiswa Filsafat Keilahian Universitas Hen Namotemo menjawab hal tersebut melalui rangkaian kegiatan seperti pelayanan perayaan Natal dan pelayanan perayaan Paskah yang dilakukan di jemaat-jemaat.
Hal ini menandakan kesadaran mahasiswa Filsafat Keilahian UNHENA memiliki tanggung jawab dan solidaritas yang terus eksis dari gempuran pragmatisme.
Hal tersebut sejalan dengan visi Himpunan Mahasiswa Filsafat Keilahian: "Mewujudkan Himpunan Mahasiswa Program Studi Filsafat Keilahian yang bersinergi (saling bekerja sama) dan harmonis (hidup rukun)."
Akankah solidaritas masih tetap utuh dari ancaman pragmatisme dan ketidakpedulian?
Pertanyaan di atas tidak mudah untuk dijawab. Ibarat pepatah, nilai setitik merusak susu sebelanga: perbuatan buruk sekecil apa pun merusak seluruh citra baik Himpunan Mahasiswa Filsafat Keilahian UNHENA. Bukan hanya berangkat pada norma-norma tertulis, tetapi nilai solidaritas kolektif yang berwujud kemanfaatan sosial.
Adapun bahwasanya selaku mahasiswa, jangan hanya terpusat pada kegiatan-kegiatan formalis seperti duduk, mendengar, mencatat, tanpa adanya ruang kritis dalam pembelajaran. Padahal sejatinya pendidikan menurut tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara:
"Pendidikan bertujuan memerdekakan manusia secara lahir dan batin, membentuk karakter berbudi pekerti luhur, dan berlandaskan pada asas Trilogi Pendidikan."
Saya mengajak kepada seluruh individu mahasiswa, terkhususnya mahasiswa Filsafat Keilahian UNHENA, untuk hidup dalam nilai-nilai solidaritas yang kuat, dengan memulai dari kesadaran literasi, ruang sosial, dan ruang teologis.(*)
.jpg)