![]() |
| Abd Rahim Odeyani (Warga Halmahera Tengah) |
Situasi di Halmahera Tengah saat ini ibarat bara dalam sekam yang baru saja disiram air, asapnya masih mengepul, lukanya masih menganga, dan duka warga yang kehilangan rumah serta sanak saudara belum lagi surut.
Di tengah upaya kolektif dari Pemda Halteng, TNI, Polri, dan kesadaran murni warga untuk berdamai, kehadiran seorang pemimpin daerah seharusnya menjadi penyejuk dan perekat sosial. Namun, sangat disayangkan, gaya komunikasi Gubernur Maluku Utara justru menunjukkan ketidakpekaan terhadap psikologis massa yang sedang berupaya pulih.
Kehadiran Gubernur Maluku Utara, seharusnya membawa narasi edukatif dan pesan perdamaian, bukan bertindak layaknya tim investigasi di lapangan, dengan mengajukan pertanyaan kepada warga untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar secara terbuka di hadapan warga yang sedang berduka hanya akan memicu polarisasi baru dan rasa saling curiga.
Saat warga mengungsi dan kehilangan harta benda, mereka butuh ditenangkan, bukan diinterogasi. Kata-kata yang menghakimi hanya akan menambah beban mental masyarakat yang sudah cukup menderita akibat konflik yang terjadi beberapa hari kemarin.
Upaya dan langkah perdamaian yang telah dibangun dengan susah payah oleh Pemda Halmahera Tengah, pihak keamanan dan warga setempat bisa terancam runtuh jika pemimpin tertinggi di provinsi justru melontarkan kalimat-kalimat yang provokatif dan tidak mendidik.
Seorang Gubernur harusnya paham bahwa "kebenaran" dalam konflik sosial bersifat kompleks. Fokus utama saat ini seharusnya adalah pemulihan (recovery) dan reintegrasi, bukan justru memperkeruh suasana dengan retorika yang mencari kambing hitam dalam peristiwa konflik yang sudah mulai membaik.
Kita membutuhkan pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional, yang tahu kapan harus bicara tentang aturan dan kapan harus memeluk warganya yang sedang terluka.
Gaya komunikasi yang kaku, investigatif, dan cenderung menyalahkan sama sekali tidak mencerminkan nilai luhur masyarakat Maluku Utara yang menjunjung tinggi persaudaraan dan kekeluargaan.
Pesan Saya, Gubernur harus segera mengubah pola komunikasinya menjadi lebih humanis, atau sejarah akan mencatatnya sebagai pemimpin yang gagal hadir di saat rakyatnya paling membutuhkan ketenangan.
