Sampah Makin Masif di Kawasan Industri Weda Bay Nikel

Foto Istimewa Cogoipa.online. Sampah di Kawasan IWIP

Cogoipa, Halteng - Masifnya aktivitas pertambangan di Kabupaten Halmahera Tengah rupanya berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah yang berserakan. Sejumlah titik di Kecamatan Weda Tengah dan Weda Utara masih dipenuhi tumpukan sampah di pinggir jalan nasional.(11/03/25)

Padahal, melalui Peraturan Bupati Halmahera Tengah Tahun 2023 tentang Mekanisme Pengelolaan Sampah Bersama Kelompok Masyarakat, Bupati Ikram Malan Sangaji telah menegaskan larangan membuang sampah sembarangan. Regulasi itu diharapkan mampu mendorong kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab.

Berdasarkan pemberitaan dari berbagai media, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Halmahera Tengah sejatinya telah mengupayakan berbagai program dan pendekatan untuk menekan angka timbulan sampah. Namun hingga kini, persoalan sampah masih terus menghantui kawasan industri PT Weda Bay Nikel.

Persoalan ini membutuhkan solusi nyata dan terukur. Merujuk pada laman ugm.ac.id, Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menerapkan sejumlah langkah dalam pengelolaan sampah mandiri. Salah satunya adalah pengembangan fasilitas pengolahan sampah organik menjadi kompos sejak 2011 di Pusat Inovasi Agro Teknologi (PIAT) UGM, Desa Kalitirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman.

Pada 2016, UGM juga mendirikan Rumah Inovasi Daur Ulang (RinDU) yang berfungsi sebagai laboratorium daur ulang sampah dan limbah dengan pendekatan 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Metode yang digunakan antara lain komposting untuk sampah organik, pirolisis untuk mengolah limbah plastik menjadi bahan bakar, serta insinerator untuk sampah residu yang tak lagi dapat dimanfaatkan.

Di lapangan, keluhan warga pun mulai bermunculan. Seorang warga yang diwawancarai di Desa Lelilef, seperti dikutip dari media online independen, mengungkapkan perubahan kebiasaan akibat kehadiran perusahaan tambang.

"Sebelum ada perusahaan, sampah kami kumpul baru bakar. Setelah ada perusahaan, kami bakar tapi sudah tidak sanggup lagi," tuturnya dengan nada pasrah.

Pernyataan ini menggambarkan adanya peningkatan volume sampah yang tak lagi mampu dikelola dengan cara-cara konvensional oleh masyarakat setempat. Dibutuhkan intervensi serius dari pemerintah dan pelaku industri untuk mengatasi darurat sampah di kawasan ini.(*)

Lebih baru Lebih lama