![]() |
| Ilustrasi Gambar Facebook Made Supriatma| Penulis Made Supriatma |
Pagi tadi, saat kesadaran saya belum melek benar, sebuah pesan masuk di hape. "Andrie disiram air keras semalam." Saya tersentak. Saya buka pesan di beberapa aplikasi. Hampir semua isinya berita yang sama.
Reaksi pertama saya adalah menghubungi beberapa teman untuk konfirmasi. Beberapa menceritakan dengan detail. Pelan-pelan, ada kemarahan meluap. Setelah itu, rasa tidak berdaya. Ini adalah dua perasaan yang paling sering saya hadapi pada tahun-tahun masa Orde Baru.
Banyak sekali kejadian yang mengusik rasa keadilan. Itu membuat marah namun kemudian diiringi perasaan tidak berdaya luar biasa. Mau mengadu pada siapa? Mencari perlindungan? Lupakan! Apalagi mencari keadilan.
Teman lain bercerita bahwa peristiwa jahanam itu dilakukan setelah Andrie pulang dari rekaman siniar (podcast) di kantor YLBHI. Ini menambah syok saya. Karena saya adalah bagian dari YLBHI, ini seperti serangan kepada anggota keluarga sendiri.
Terus terang, saya mengagumi Andrie. Anak muda satu ini, menurut saya sangat berani. Publik Indonesia tidak akan tahu akan pembahasan RUU TNI kalau saja Andrie dan beberapa kawan tidak mendobrak hotel mewah tempat rapat RUU tersebut. Pembahasan dilakukan secara rahasia, diam-diam, untuk meminimalkan resistensi publik.
Kalau Anda masih ingat, pendobrakan ruang rapat itu kemudian menyentak perhatian publik. Pihak militer menanggapinya dengan menempatkan beberapa panser di sekitar hotel. Biarpun demikian, UU TNI tetap disahkan dengan suara bulat. Tidak itu saja, ketua panja dan ketua DPR berasal dari partai yang tidak menjadi bagian pemerintah, PDIP.
Untuk saya, aksi Andrie dan beberapa kawannya ini adalah sebuah "game changer." Segera setelah itu, demonstrasi penolakan UU TNI berlangsung dimana-mana.
Sebagai peneliti saya menemukan fenomena baru dari gelombang demo ini, yakni bahwa yang bergerak tidak saja mahasiswa dari kampus-kampus besar di kota-kota besar. Namun ia merata ke kota-kota kecil dan partisipan yang amat beragam.
Pola ini terulang pada demonstrasi besar Agustus kemarin. Ujungnya adalah kerusuhan, yang tidak berhubungan dengan demo-demo itu. Para elit yang bertikai memanfaatkan momen demo itu untuk saling menghantam. Itulah kesimpulan dari Komisi Pencari Fakta (KPF) yang dibentuk oleh koalisi masyarakat sipil.
Andrie Yunus beraktivitas di Kontras, sebuah organisasi pembela HAM dan demokrasi. Organisasi ini didirikan oleh almarhum Munir. Anda tentu tidak lupa bahwa Munir dibunuh diatas pesawat Garuda yang membawanya ke Amsterdam untuk melanjutkan studi.
Apa yang menimpa Munir, sekarang menimpa anggota Kontras yang lain, Andrie. Bedanya adalah Andrie jauh lebih muda ketimbang Munir saat diserang. Memang air keras ini tidak sampai berakibat fatal. Ia hanya akan menjadi pertanda seumur hidup untuk Andrie.
Ia mungkin akan membuat anak-anak muda lain menjadi takut untuk kritis dan bersuara. Mungkin juga tidak. Peristiwa ini, mudah-mudahan menjadi inspirasi untuk anak-anak muda bahwa perjuangan untuk menegakkan hak-hak asasi manusia, perjuangan meminta keadilan, pertanggungjawaban, persetujuan atas penggunaan uang rakyat, adalah penting untuk kemajuan kita bersama. Bahwa negara kita berdasarkan hukum bukan kekuasaan belaka (masih ingat ada dimana kata-kata ini?).
Kita tidak tahu siapa pelaku dari tindakan biadab ini. Yang pasti adalah para pelakunya hanyalah coro-coro kelas teri. Pasti ada orang-orang kuat dibalik itu. Belum tentu ini dilakukan oleh Pemerintahan Prabowo-Gibran. Boleh jadi, ia dilakukan untuk menciptakan ketidakstabilan pemerintahan Prabowo-Gibran.
Jika demikian halnya, pemerintahan ini harus datang dengan bersih. Segera investigasi kasus ini setuntas-tuntasnya. Seret mereka yang terlibat sampai ke akar-akarnya.
Bisa jadi juga ia dilakukan oleh elemen-elemen yang duduk di dalam rejim. Akibat persaingan di kalangan elitnya. Ini sangat umum terjadi di negeri ini. Seperti kata pepatah Afrika, "Entah gajah itu sedang berkelahi atau bercinta, selalu rumputlah yang menjadi korban."
Saya rasa tidak ada kemungkinan di luar itu. Saya tahu persis bahwa Andrie tidak terlibat dalam hal apapun di luar kegiatannya di Kontras. Hidupnya cukup sederhana. Alumnus Sekolah Tinggi Hukum Jentera ini kemana-mana naik motor. Inilah yang membuatnya lebih rentan diserang.
Setelah menenangkan diri, saya membuat pertanyaan yang lebih substansial, "Sedemikian berhargakah kekuasaan itu sehingga perlu mencelakai orang yang ingin memberi kekuatan kepada yang lemah, suara kepada yang bisu, lengan untuk yang buntung, kaki untuk yang lumpuh, dan seterusnya?"
Sebagian besar dari kita adalah orang-orang yang fatalis. Artinya, orang yang percaya pada nasib, pada takdir, dan sia-sianya melakukan perubahan. Namun ada sedikit orang yang menyadarikan kita bahwa ini semua bisa diubah kalau kita melakukannya secara kolektif. Bersama-sama.
Orang-orang ini berani mendobrak sistem. Kita tidak akan merdeka tanpa orang-orang seperti itu -- seperti Soekarno, Hatta, Alimin, Agus Salim, Sjahrir, Tan Malaka, dan lain sebagainya itu. Kita akan selamanya tertindas jika saja tidak ada yang, dengan keberaniannya yang mungkin tidak terlalu banyak itu, bangkit dan melawan.
Keadaan kita sekarang sungguh tidak baik-baik saja. Pemimpin kita berteriak anti korupsi sampai pita suaranya pecah. Tapi justru korupsi itu tumbuh dengan sangat subur pada masa kini! Korupsi yang terstruktur, sistematis, dan masif (TSM).
Tidakkah lini masa media sosial Anda setiap hari disodorkan dengan kualitas buruk MBG dan keracunannya? Bagaimana dengan Koperasi yang memakan 400 triliun tanpa perencanaan dan pengawasan. Program ini memangkas habis dana-dana desa yang sebenarnya berada di bawah tata keloka yang baik dan pengawasan ketat.
Banyak orang tidak sadar bahwa UU TNI itu membuka jalan untuk semua ini terjadi. Banyak orang tidak tahu bahwa protes Andrie Yunus itu justru sangat erat kaitannya dengan perluasan peran militer dan keterlibatan mereka dalam program-program yang sekarang dilaksanakan secara ugal-ugalan itu.
Mungkin banyak dari Anda tidak tahu bahwa PT Agrinas Pangan sebagai pelaksana pembangunan gerai Koperasi Merah Putih menyerahkan pembangunannya kepada komandan Kodim setempat. Pembangunan gerai saja itu memakan Rp 1,6 milyar rupiah per gerai di satu desa.
Bisa Anda bayangkan berapa banyak desa/kelurahan yang ada di kabupaten/kota Anda dibawah satu Kodim? Taruhlah ada 50 desa maka itu sudah berarti Rp 80 milyar! Pembangunan itu dilakukan tanpa tender, tanpa spesfikasi pekerjaan yang jelas, tanpa oversight (pengawasan) apapun.
Penggunaan racun, air keras, serta penyerangan-penyerangan fisik ini menjadikan kita negara primitif represif seperti Rusia. Putin menyingkirkan lawan-lawan politiknya dengan meracuninya. Dengan meledakkan mobil atau pesawatnya.
Rejim Air Keras, demikian sebutan saya untuk kekuasaan dengan teror racun dan asam sulfat (HSO) ini. Teror seperti ini pernah dialami sebelumnya oleh penyidik KPK, Novel Baswedan. Pemerintahan Jokowi ketika itu hanya menangkap dua coro kelas teri pelakunya. Tidak ada usaha mengusutnya ke tingkat lebih atas.
Apapun itu, saya sangat setuju dengan sikap beberapa kawan di masyarakat sipil: Kami Tidak Takut! Dan, berharap Anda pun juga seperti itu. Atau mnimal mendukung dengan tidak takut!
Keadilan pasti menang. Seperti kata Marthin Luther King, Jr. "The arc of the moral universe is long, but it bends toward justice." Jalan dalam semesta moral itu sangat panjang, namun selalu berbelok ke arah keadilan.
