Cogoipa, Internasional– Perang Regional yang memanas Antra Amerika Serikat-Irael versus Iran kembali mengguncang pasar energi global. Harga minyak dunia dilaporkan mengalami lonjakan signifikan setelah eskalasi konflik terbaru yang melibatkan Israel, Amerika Serikat, versus Iran. Dalam perkembangan terkini, dikutip dari Facebook Va Safi'i, Pakar Geopolitik, menyebutkan "harga minyak mentah melesat naik sebesar 8 dolar AS, menembus level 82 dolar AS per barel. Kenaikan ini merupakan respons langsung dari pasar terhadap kekhawatiran akan gangguan pasokan di salah satu kawasan penghasil minyak terbesar di dunia."
Lonjakan harga ini dipicu oleh aksi agresi militer yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat tergadap Iran. Kemudian Iran membalas dengan menyerang seluruh pangkalan militernya AS dan pusat penting Israel. Serta Iran menutup selat hormus. Hal ini yang membuat harga minya naik. Karena selat hormus adalah satu-satjua jalur kapal yang memuat minyak dari berbagai dunia.
Selat Hormuz dikenal sebagai jalur pelayaran paling vital di dunia, karena sekitar 20-30% dari total pasokan minyak dunia melewati celah sempit ini. Ancaman penutupan jalur ini secara langsung memicu kepanikan di pasar minyak.
Gangguan pasokan dalam skala besar akan menyebabkan harga minyak melambung jauh lebih tinggi dari level saat ini. Negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia, akan menghadapi tekanan berat pada neraca fiskal dan perdagangan, berpotensi memicu kenaikan harga energi domestik dan inflasi. Kenaikan harga minyak sebesar 8 dolar AS per barel ini diperkirakan baru merupakan awal jika konflik tidak segera mereda.
Pemerintah Indonesia harus bersiap mengantisipasi gejolak lanjutan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta otoritas fiskal perlu segera mengkaji ulang asumsi makro ekonomi, terutama ICP (Indonesian Crude Price), yang akan berdampak pada subsidi energi dan belanja negara.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk mewaspadai potensi kenaikan harga BBM dan tarif dasar listrik dalam beberapa waktu ke depan, seiring dengan masih tingginya ketidakpastian resolusi konflik di Timur Tengah.(*)
