Bakir Usman, seorang pemuda asli Desa Were, telah dikenal sebagai sosok dengan jejak rekam yang bersih dan komitmen yang tak tergoyahkan terhadap nilai-nilai leluhur. Di tengah arus modernisasi, ia teguh mempertahankan dan menghidupkan ajaran falsafah Fagogoru, yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat desanya.
Bagi Bakir, Fagogoru bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan sebuah kompas hidup yang relevan untuk membangun masa depan.
Semangat pengabdiannya tidak berhenti pada pelestarian filosofi semata. Bakir mewujudkan tanggung jawabnya terhadap generasi muda melalui PKBM WERE Mandiri, sebuah lembaga pendidikan alternatif yang didirikannya. Di sana, ia membangun ruang belajar yang kreatif dan kritis, dengan fokus pada pemberdayaan anak-anak muda melalui literasi.
Ia percaya bahwa kemampuan membaca dan menulis yang kuat adalah senjata utama untuk memahami dunia tanpa harus kehilangan akar budaya. Pendidikan literasi yang ia kembangkan tidak hanya bertujuan meningkatkan kompetensi akademik, tetapi juga menjadi media untuk mendalami, mendokumentasikan, dan menerjemahkan kearifan lokal Fagogoru dalam konteks kekinian.
Keberhasian konkretnya terlihat dari inisiatif briliannya mendorong Pemerintah Daerah dan pemerintah desa-desa di Kota Weda untuk mengirimkan anak-anak muda ke Pare, Kediri, Jawa Timur, yang dikenal sebagai "Kampung Inggris". Program ini adalah bukti visinya yang maju: menciptakan generasi yang kompetitif di kancah global, fasih berbahasa asing, namun dengan jiwa yang tetap terpaut pada identitas budaya Fagogoru.
Bakir berhasil membuktikan bahwa menjadi modern dan menjaga tradisi bukanlah dua hal yang bertentangan. Ia telah menanamkan benih-generasi emas masa depan yang percaya diri melangkah ke dunia luas dengan membawa martabat kebudayaannya sendiri.
Kini, Bakir Usman mengambil langkah strategis berikutnya dalam perjalanan pengabdiannya: maju sebagai calon Kepala Desa Were. Langkah ini adalah kelanjutan logis dari seluruh perjuangannya, sebuah upaya untuk membawa semangat pelayanan dan visi kebudayaannya ke dalam tataran pemerintahan yang lebih sistemik.
Ia tidak hanya ingin membangun Desa Were secara fisik, tetapi juga secara sosial dan budaya. Visi kepemimpinannya berlandaskan Fagogoru, yang ia tawarkan sebagai paradigma untuk menciptakan tata kelola desa yang inklusif, partisipatif, dan berkeadilan.
Dengan slogan "Satu Fagogoru, Satu Tujuan: Desa Sejahtera", Bakir ingin mengajak seluruh warga menyatukan hati dan pikiran. Baginya, kesejahteraan yang hakiki adalah ketika kemajuan ekonomi, keadilan sosial, dan kelestarian budaya berjalan beriringan. Pencalonannya sebagai kades adalah janji untuk membangun Desa Were dari dalam, dengan kekuatan sendiri, dengan identitas sendiri, dan dengan semangat Fagogoru yang telah terbukti menjaga harmoni kehidupan selama ini. Bakir Usman bukan sekadar calon pemimpin, ia adalah penerang yang menjaga nyala api leluhur sambil menerangi jalan menuju desa masa depan yang gemilang.(*)
