SPI Soroti Gejolak Harga Pangan, Produksi Nasional di Tengah Ancaman Perang dan Kemarau

Foto Diskusi Online Serikat Petani Indonesia

Cogoipa.online - Serikat Petani Indonesia (SPI) menggelar diskusi publik bertajuk “Gejolak Harga Pangan Ramadan 2026 dan Kondisi Produksi Nasional” pada Kamis (12/03/2026). Diskusi ini membahas persoalan harga pangan dari berbagai sisi, mulai dari produksi, distribusi, hingga kebijakan pangan nasional.

Dilansir dari spi.or.id, diskusi menghadirkan Pengamat Ekonomi Politik Pangan Khudori, Prof. Dr. Widyastutik, S.E., M.Si dari IPB University, serta Kusnan selaku Kepala Badan Pengkajian, Penerapan Agroekologi dan Perbenihan Pusat SPI.

Ketua Umum SPI Henry Saragih menegaskan bahwa gejolak harga pangan yang kerap terjadi menjelang Ramadan dan Idul Fitri tidak bisa dilihat hanya dari sisi pasar. Menurutnya, kondisi produksi dan kesejahteraan petani juga sangat menentukan stabilitas pangan nasional.

Khudori menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan saat Ramadan merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi karena meningkatnya konsumsi masyarakat. Meski sejumlah komoditas dilaporkan dalam kondisi surplus, berbagai faktor risiko tetap perlu diantisipasi, seperti perubahan iklim dan situasi geopolitik global yang dapat memengaruhi biaya produksi, energi, dan distribusi.

Ia juga mengingatkan bahwa ketersediaan pangan secara nasional belum tentu menjamin stabilitas harga jika distribusi tidak berjalan merata.

Sementara itu, Prof. Widyastutik menyoroti bahwa persoalan pangan tidak hanya terkait ketersediaan, tetapi juga keterjangkauan bagi masyarakat. Perbedaan daya beli dan kendala logistik antarwilayah membuat akses pangan tidak selalu merata. Ia menilai kebijakan stabilisasi harga pangan selama ini masih cenderung bersifat reaktif dan perlu diperkuat melalui langkah-langkah preventif.

Dari sisi produksi, Kusnan menyampaikan bahwa kondisi produksi pangan pada awal 2026 relatif positif. Produksi beras nasional pada kuartal pertama diperkirakan mencapai sekitar 10,16 juta ton atau meningkat sekitar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, petani masih menghadapi kendala seperti distribusi pupuk yang belum merata serta perbedaan harga yang cukup besar antara tingkat petani dan konsumen.

Para narasumber sepakat bahwa stabilisasi harga pangan perlu dilakukan secara lebih sistematis melalui penguatan cadangan pangan, perbaikan distribusi, kemudahan akses petani terhadap sarana produksi, serta pengawasan pasar yang konsisten.

SPI menegaskan bahwa penguatan produksi pangan nasional harus dilakukan dengan berpihak pada petani, termasuk melalui pengembangan pertanian rakyat berbasis agroekologi serta perbaikan rantai distribusi agar pangan tetap terjangkau bagi masyarakat sekaligus memberikan pendapatan yang adil bagi petani.(*)

 

Lebih baru Lebih lama