![]() |
| Ilustrasi : Wikan Tri Sambodo | Penulis Mahfud Ridwan |
Republik Tikus, Tinggalku hanya di comberan . . . . . .
Beberapa minggu lagi, tepatnya dua minggu yang akan datang, salah satu negara di Benua Rimba akan mengadakan pesta besar-besaran. Sebuah pesta yang diselenggarakan dalam kurun waktu tiga tahun sekali. Sudah terdengar dari berbagai sudut daerah mengenai pesta besar-besaran ini. Namun, mungkin hanya aku yang tersenyum kecut di antara hingar- bingar orasi-orasi para calon penguasa di luar sana.
Negaraku bernama Republik Tikus. Negara di mana semua makhluk hidup yang menjadi rakyat dan pengatur pemerintahannya adalah para tikus. Mungkin aku juga perlu memperkenalkan kepada kalian semua mengenai siapa saja yang ada dalam struktur kenegaraan kami.
Seperti yang sudah banyak bangsa manusia ketahui, negara republik dipimpin oleh seorang presiden dan para pejabatnya. Mereka-mereka ini yang menjalankan pemerintahan di negaraku. Pesta yang akan digelar dalam kurun waktu beberapa hari mendatang adalah pemilihan Presiden.
Namun, para pejabat itu bukan dari kalangan kaumku. Aku hanya kaum tikus yang tinggal di comberan, berbadan besar, berbulu hitam gelap, dan penuh koreng di sana sini yang mengakibatkan bulu-buluku rontok di beberapa tempat. Aku juga sering disebut tikus pembawa penyakit, terutama tipes.
Sedangkan mereka, para pejabat, adalah kaum rumahan yang senantiasa sehat, tubuhnya kuat meskipun postur tubuh mereka sedikit lebih kecil dari kaumku, tidak korengan dan bulu mereka pun tak sama denganku. Bulu mereka abu-abu kelabu. Sebuah warna yang menurutku tak jelas dan tidak transparan. Mungkin kinerja mereka selama menjalankan pemerintahan juga sama dengan pengertian dari warna bulu mereka. Tidak transparan.
Seminggu menjelang pemilihan presiden, aku tetap menjalankan aktivitas mencari makanan di comberan dan di tempat-tempat penampungan sampah hasil limbah. Di sana sini kulihat banyak sekali poster yang mendeklarasikan calon-calon pemimpin Republik Tikus. Kulihat hanya ada dua calon yang akan memimpin republik ini, calon nomor urut satu dari Partai Pengerat Penindasan, dan calon nomor dua dari Partai Penggagas Perubahan.
Aku bergeming. Jujur, aku sudah lama bosan dengan yang namanya pemerintahan. Selama yang aku tahu, belum ada pemimpin yang benar-benar bisa diandalkan dan dipercaya. Mungkin hanya lawan politik yang membesar-besarkan kelemahan si pemimpin, atau mungkin juga para pemimpin yang sudah-sudah memang demikian.
Untuk sekarang, calon nomor urut satu memiliki ideologi yang menurutku sangat bisa dipercaya. Aku merasa, mungkin berharap, Republik Tikus ini akan mengalami kemajuan dan kesejahteraan di bawah kepemimpinannya. Terlebih karena aku juga sudah tahu sepak terjang dia dalam bermasyarakat. Entahlah. Ini semua hanya masalah waktu. Berbeda sekali dengan calon nomor urut dua yang cenderung lenjeh dalam mengambil keputusan. Sudah terlihat sepak terjangnya dalam membina partainya sendiri dan cara bersikapnya yang cenderung plin plan.
Sejauh ini, aku tidak mendengar ataupun mengetahui cara-cara kampanye yang menyimpang. Semuanya terasa biasa saja, aman, dan terkendali. Padahal biasanya masa kampanye di kehidupan manusia kudengar tak seaman ini. Mereka lebih sering saling tuduh menuduh untuk menjatuhkan lawan. Ah, mungkin memang itu halal bagi mereka yang ingin menang dengan segala cara.
Akhirnya hari itupun tiba. Seluruh rakyat dari Republik Tikus bersorak-sorai menyambut hari ini. Semua aktivitas instansi pemerintah, sekolah-sekolah, dan perusahaan menerapkan libur nasional karena adanya hari pemilihan presiden. Kaum tikus yang tinggal di comberan juga begitu, mereka berduyun-duyun menuju tempat pemungutan suara untuk memilih presiden yang akan memerintah Republik Tikus selama tiga tahun ke depan.
Sejujurnya, aku tak ingin ke manapun hari ini. Aku muak dengan pemerintahan, tapi rasa percaya pada pasangan nomor satu seolah memecah semua kemuakanku. Aku percaya bahwa dia mampu membawa Republik Tikus menjadi negara yang maju dan berdaulat. Itulah yang mendorongku untuk keluar dari sarang di gorong-gorong pinggir jalan raya.
Aku berharap memang tidak ada kecurangan dalam pemilihan ini, melihat dari amannya masa kampanye dan tak ada model-model saling menjatuhkan seperti yang terlihat dari pemilu umat manusia. Harapanku juga besar pada peran lembaga-lembaga yang mengurusi pesta demokrasi ini. Semoga mereka semua amanah dan independen dalam menjalankan tugasnya.
Batas waktu pemungutan suara dibatasi hanya sampai pukul dua siang, karena selanjutnya adalah untuk menghitung perolehan suara dari masing-masing calon. Sadar akan jumlah rakyat di Republik Tikus ini hanya berkisar ribuan. Aku memilih untuk tetap tinggal di tempat pemungutan suara. Sebagai warga negara, aku juga berhak untuk mengawasi jalannya penghitungan suara.
“Nomor urut dua lagi!”
Para pendukung makin bersorak.
Hingga separuh suara dari dua ratus total suara, yang aku lihat di papan penghitungan, hanya calon nomor dua yang mendominasi. Sedangkan calon nomor satu, pilihanku, hanya memperoleh beberapa suara.
Pada akhirnya suara terbanyak yang ada di daerahku diraih oleh pasangan nomor dua. Setelah petugas mengumumkan dan mengesahkan perolehan itu, aku melangkah gontai kembali ke gorong-gorong. Aku hanya berharap di daerah lain suara calon nomor satu bisa mendominasi.
Setelah itu, aku tak tahu lagi kabar mengenai siapa presiden yang terpilih. Sebagai rakyat yang hidup di comberan, aku tak punya televisi atau radio sebagai sumber informasi. Yang kutahu hanya mengais makanan sisa di tempat sampah untuk hidup hari ini dan hari selanjutnya.
“Hai, Koreng!” Sapa salah satu tetangga. Mereka memang terbiasa memanggilku dengan sebutan Koreng. Ya, kalian pasti tahu sendiri.
“Ngomong-ngomong, lembaga pemilihan sudah memutuskan siapa yang menjadi presiden untuk tiga tahun ke depan. Kau sudah tahu?”
“Tidak. Aku belum tahu.” Jawabku, “Kau tahu dari mana?”
“Kebetulan aku dari kawasan tikus rumahan dan tak sengaja melihat televisi di pos kamling mereka. Beritanya banyak yang memberitakan bahwa pasangan nomor dua terpilih menjadi presiden.”
“Benarkah itu?” tanyaku. Dalam hati aku sedikit kecewa karena calon yang kuharapkan tak menjadi presiden tahun ini.
“Iya, benar. Dan kabarnya, tahun ini kabinet yang akan dipilih delapan puluh persen dari kalangan rakyat yang hidup di comberan,”
“Hah! Kenapa begitu?” Aku makin penasaran dan kurang paham.
“Ketika dia diwawancari para tikus jurnalis, dia mengatakan bahwa maksud dari rencananya tersebut adalah agar pemerintahan di kabinetnya nanti setara dan tidak hanya dari golongan tikus rumahan saja. Tentunya untuk kesejahteraan semua rakyat Republik Tikus. Dia mengatakan seperti itu.”
“Hei, Koreng.” Ucap tikus comberan yang badannya lebih besar dariku. Dia adalah kepala desa di lingkungan gorong-gorong. “Kuharap kau mau untuk kudelegasikan menjadi menteri pada kabinet yang akan dijalankan presiden sekarang,”
“Kenapa harus saya, Pak?”
“Karena kulihat cuma kau di wilayah kita yang pendidikannya sedikit lebih tinggi dari yang lain,” Katanya sambil memplintir-plintir kumis panjangnya. “Dan jangan menolak! Karena setiap lingkungan wajib mendelegasikan satu perwakilannya,”
“Kenapa tidak bapak saja?”
“Kalau aku yang maju, siapa yang akan memimpin lingkungan ini?”
“Ya sudah, pak.”
Akhirnya aku pun masuk di antara tikus-tikus lain dan menjadi mentri di bawah pemerintahan presiden nomor dua. Tujuanku tak jelas di sini. Yang aku tahu, aku harus berpihak pada rakyat di lingkungan comberan dan semua lingkungan yang kurang mapan.
Sebulan berlalu, dan aku mulai resah. Betapa tidak, sudah sebulan semenjak dipilih dan sampai saat ini belum ada penempatan di bagian mana yang harus aku kerjakan. Begitu juga dengan semua menteri yang lain. Kebanyakan kami hanya datang ke gedung dan berleha-leha. Apakah ini memang pekerjaan para wakil rakyat? Datang dan berleha-leha, tanpa melihat dari mana mereka berasal, rakyat.
Keresahanku berbuah jenuh, jenuh berlama-lama di kantor, hanya duduk dan menunggu perintah. Karena jenuh, aku memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi setiap sudut gedung. Berharap menemukan hal baru yang bisa mengatasi kejenuhan ini. Semua ruangan dari lantai satu sampai lantai tiga kususuri. Sambil berjalan, sesekali mulutku berdecit pertanda aku tak lupa jati diri sebagai seorang tikus—yang hidup di comberan.
Memasuki gedung di lantai tiga, akhirnya aku masuk ke kawasan tempat presiden melakukan tugasnya. Aku berjalan pelan sambil lamat-lamat mengamati lantai yang baru kali ini aku masuki. Beberapa langkah dari lift, perlahan kudengar suara presiden. Dia nampaknya sedang bercakap dengan seseorang. Sepuluh langkah dari lift, aku berbelok ke kanan menuju sumber suara. Ternyata, pintu ruang kerja presdien sedikit terbuka dan bisa kulihat di dalamnya ada presiden dan seorang sosok tikus tua yang tak asing.
Ya, ternyata memang tikus tua itu adalah presiden di masa dua priode pemerintahan yang lalu. Presiden yang dinilai gagal dalam menjalankan amanat dari rakyat dan dipaksa turun dari jabatan presiden Republik Tikus.
Kudengar percakapan mereka. Sang mantan presiden itu memberitahukan kepada presiden sekarang bahwa dia diperintah untuk menjalankan pemerintahan seperti biasa saja, akan tetapi sektor-sektor pembangunan harus lebih ditingkatkan, katanya untuk pengembangan dan stabilitas. Sang mantan berkata kembali, katanya gusur kawasan kumuh dan kotor, bangun tempat-tempat penunjang kebutuhan di sana. Bila ada yang melawan, singkirkan dengan segala cara.
“Pokokmya, kali ini pemerintah harus menang!” Ucapnya dengan berapi-api.
Aku diam, perlahan kujauhi pintu yang sedikit terbuka itu dengan perasaan was-was bercampur menyesal. Yang terpikirkan olehku hanya rakyat di kawasan comberan. Bagaimana nasib mereka nantinya? Akan tinggal di mana mereka jika kawasannya digusur?
Pemerintahan ini sudah tidak sehat dari awal. Pemimpinnya sudah ditunggangi pihak lain untuk meluruskan kepentingan dari pemerintahan sebelumnya yang terbukti gagal. Apa jadinya negara ini bila pemerintahannya sudah ditunggangi?
Langkahku semakin cepat menuju ruang kerjaku sendiri. Decitan-decitan dari mulutku semakin meracau dan tak terkendali. Dalam hati aku menaruh penyesalan yang begitu mendalam. Menyesal karena telah memilih jalan menjadi pejabat pemerintah. Pejabat pemerintah—yang sekali lagi—pemimpinnya sudah ditunggangi dan dikendalikan pihak lain.
Memikirkan perlawanan dan kudeta, perlawanan seperti apa yang hendak dijalankan jika rakyat lebih cenderung setia pada presidennya pada masa pemerintahan ini?
Rasanya, aku ingin kembali tinggal di comberan. . . . .
