![]() |
| Desain Grafis Cogoipa.online | Foto Istemewah Nofriyanti Anwar |
Hari ini, di bumi Fagogoru yang kita cintai, kita tidak sekedar merayakan kata 'perempuan' sebagai simbol kelembutan semata. Kita hadir untuk menegaskan kembali makna sejati perjuangan: perempuan sebagai tulang punggung yang tak lekang oleh waktu, yang menahan beban perubahan zaman.
Fagogoru, denyut nadi kita, bukan lagi hanya pesisir tenang yang dulu dinyanyikan dalam irama Fagogoru. Kini, ia adalah jantung industri yang berdenyut kencang, wajah ganda pembangunan yang menawarkan secercah asa namun juga menyimpan potensi kerentanan. Di antara debu tambang yang membubung dan gemuruh alat berat yang menggelegar. Perempuan Fagogoru hadir dalam rupa yang beragam: ada yang tangguh di lini produksi, ada yang gigih menjaga kedaulatan pangan di kebun-kebun warisan leluhur yang kian menyempit, dan ada pula yang teguh memastikan cita-cita pendidikan anak-anak mereka terbang lebih tinggi dari cerobong-cerobong pabrik yang menjulang.
Semangat ini bukanlah semangat yang lahir di ruang hampa. Kita memperingati Hari Perempuan Sedunia (08 Maret) bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah api yang dinyalakan oleh para pendahulu kita, seperti Princes Van Kasiruta, Perempuan Fagogoru yang berjuang bersama Hi Salahudin, perjuangan mereka bermula dari kegelisahan akan keterbatasan ruang gerak perempuan dan rakyat pribumi. Serta Kartini, surat-suratnya, yang "Menemukan matahari" bagi kemajuan kaumnya, adalah bukti bahwa pikiran kritis adalah senjata paling ampuh. Semangat ini kemudian menempa para perempuan masa pergerakan, yang berani turun ke jalan, mengangkat senjata, dan merelakan jiwa demi satu kata: Merdeka.
Namun, di simpang zaman ini, ironi terbesar menghadang kita. Di tengah peringatan akan kemajuan dan kesetaraan, kita masih menyaksikan bagaimana perang dan konflik menjadi tragedi kemanusiaan yang paling gamblang, dengan perempuan sebagai korban paling rentan.
Kita tidak boleh menutup mata. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketegangan geopolitik dan ancaman peperangan di belahan bumi lain bukanlah sekadar tontonan di layar ponsel. Dari Gaza yang terkepung hingga Ukraina yang porak-poranda,berlanjut serangan ke Iran. Kita menyaksikan bagaimana agresi, terutama yang didalangi oleh kekuatan adidaya seperti Amerika Serikat dan entitas seperti Israel, menghancurkan tatanan kehidupan. Bayangkan, di Gaza, ribuan perempuan kehilangan suami, anak, dan rumah mereka dalam sekejap. Mereka berjuang untuk bertahan hidup di tengah reruntuhan, tanpa akses air bersih, makanan, atau layanan kesehatan yang memadai. Ini adalah potret kelam bagaimana politik ekspansionisme dan kepentingan ekonomi global selalu menempatkan rakyat sipil, khususnya perempuan dan anak-anak, sebagai tumbal.
Sebagai daerah lingkar industri strategis di kawasan timur Indonesia, Negeri Fagogoru adalah titik yang sangat sensitif terhadap guncangan global. Jika rantai pasok terputus, jika konflik multilateral pecah, jika harga komoditas global ambruk, dampaknya akan terasa langsung di dapur-dapur kita. Perempuan dari sejarah manapun selalu menjadi kelompok pertama yang merasakan getaran krisis: ekonomi yang terhantam, keamanan yang terusik, dan akses kesehatan yang menyempit. Ketergantungan kita pada investasi asing dan pasar global adalah pisau bermata dua. Di satu sisi membawa kemajuan, di sisi lain menjadikan kita rentan terhadap gejolak yang tak kita ciptakan.
Antisipasi bukan berarti kita hidup dalam ketakutan, melainkan wujud kecerdasan dan kesiapan. Hari Perempuan Sedunia tahun ini, tepat di simpang zaman ini, adalah momentum sakral bagi kita untuk bersama-sama membangun Benteng Ketahanan Perempuan :
1. Kedaulatan Domestik dan Pangan: Mari kita perkuat kembali kemandirian ekonomi dari unit terkecil. Jangan biarkan dapur kita sepenuhnya bergantung pada barang impor atau distribusi luar yang rentan terhenti saat krisis. Hidupkan kembali lumbung-lumbung pangan desa, dukung produk-produk lokal perempuan, dan ciptakan ekosistem ekonomi yang berputar di antara kita sendiri.
2. Solidaritas Lintas Sektor: Perempuan pekerja di kawasan industri dan perempuan pekebun di desa-desa harus saling menjaga, bukan saling curiga. Jejaring informasi dan sistem bantuan mandiri, seperti posko kesehatan komunitas atau dapur umum bersama, harus mulai kita bentuk dari sekarang. Rapatkan barisan, karena saat badai datang, kita hanya punya satu sama lain.
3. Literasi Krisis: Bekali diri kita dan anak-anak kita dengan kemampuan mitigasi, bukan hanya untuk bencana alam, tapi juga untuk krisis sosial-ekonomi akibat ketidakstabilan global. Tanamkan sejak dini nilai-nilai anti-kekerasan dan cinta damai. Kecam dan kutuk setiap tindak agresi perang di mana pun berada, karena esensi dari peringatan hari perempuan adalah perjuangan untuk kehidupan, bukan kematian.
Perempuan Halmahera Tengah adalah pewaris nilai luhur Fagogoru, nilai tentang kebersamaan, gotong royong, dan kekuatan kolektif. Dalam situasi damai kita membangun, dalam situasi krisis kita akan bertahan, bahu-membahu. Kita adalah jangkar yang akan memastikan bahtera keluarga dan daerah ini tetap kokoh, tidak karam diterjang badai peperangan global, dan tidak hanyut dalam arus ketidakadilan.
Selamat Hari Perempuan Sedunia, untuk setiap perempuan Fagogoru. Jadilah perempuan yang terus belajar dari masa lalu, beraksi di masa kini, dan berani membayangkan masa depan yang lebih damai dan berdaulat. Tetap kuat, tetap mawas diri, dan tetap berdaya. Lawan segala bentuk penjajahan dan segala bentuk Penindasan!
Penulis: Nofiyanti Anwar, S.IKOM, anggota DPRD Halmahera Tengah, Ketua Fraksi Partai Gerindra
Editor: Redaksi
