![]() |
| Penulis: Ny. Rallia Asyari Ikram (Ketua TP. PKK Halmahera Tengah |
Sebagai seorang perempuan yang diberi amanah mendamping saya suami saya sebagai Bupati untuk mengelola pemerintahan di daerah, sekaligus Ketua TP PKK Kabupaten Halmahera Tengah, peringatan Hari Pers Nasional setiap 9 Februari ini terasa sangat personal dan penuh makna. Tanggal ini, yang ditetapkan berdasarkan Hari Ulang Tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui Keppres No. 5 Tahun 1985, bukan sekadar pengingat akan peran pers sebagai pilar keempat demokrasi. Bagi saya, ini adalah momentum untuk menyelami kembali narasi sejarah, di mana tinta perjuangan ternyata juga ditorehkan dengan kuat dan elegan oleh tangan-tangan perempuan.
Kita tentu mengenal Tirto Adhi Soerjo (1880-1918), sang Bapak Pers Nasional yang gigih merintis surat kabar pribumi pertama, *Medan Prijaji*, pada 1907. Perjuangannya menggunakan media sebagai alat propaganda melawan kolonialisme adalah fondasi yang kokoh. Namun, dalam bayang-bayang pencapaian besar itu, seringkali terlupakan sosok penting yang berada di sampingnya: Princes Van Kasiruta, atau Boki Fatimah.
Beliau bukan hanya istri dari Tirto Adhi Soerjo, tetapi adalah pionir dalam dirinya sendiri. Sebagai perempuan pertama asal Maluku Utara, Boki Fatimah mendirikan media pers bernama *Poetri Hindia*. Ini adalah langkah yang luar biasa progresif di eranya. Bahkan, dukungan dari sang ayah, Sultan Bacan, terhadap pembangunan media Tirto, menunjukkan bahwa semangat memajukan bangsa melalui informasi telah menjadi darah daging dalam keluarga ini. Boki Fatimah membuktikan bahwa peran perempuan dalam perjuangan tidak hanya berada di wilayah domestik, tetapi juga di garda depan pembentukan opini dan penyebaran kesadaran nasional melalui media.
Sebagai perempuan Maluku Utara yang kini memegang peran publik, saya merasa sangat terhubung dengan warisan ini. Kebanggaan itu bukan hanya karena kesamaan asal usul, tetapi karena esensi perjuangannya. Beliau menunjukkan bahwa perempuan punya agency, memiliki kekuatan untuk mengambil alih pena dan menuliskan narasinya sendiri, berkontribusi langsung dalam gelora melawan penjajahan. Karena langkah berani perempuan seperti Boki Fatimah-lah, kita, perempuan-perempuan masa kini, dapat menikmati dan melanjutkan estafet kemerdekaan dengan cara kita sendiri.
Warisan Boki Fatimah bukan sekadar kenangan. Ia adalah semangat yang harus terus kita hidupkan. Intinya adalah pengakuan bahwa perempuan memiliki posisi yang setara dan tanggung jawab yang sama besarnya untuk memajukan bangsa dan negara. Di TP PKK Halmahera Tengah, semangat ini kami terjemahkan dalam kerja nyata. TP PKK tidak lagi dilihat sebagai organisasi yang hanya bergerak di ranah dapur dan sumur, melainkan sebagai mitra strategis pembangunan. Kami mengambil tanggung jawab untuk memajukan Halmahera Tengah yang lebih baik dan sejahtera.
Kami bergerak di bidang pendidikan dan literasi, membuka akses informasi kesehatan, memberdayakan ekonomi keluarga melalui berbagai pelatihan dan pendampingan usaha mikro, serta menjaga kelestarian lingkungan. Semua ini adalah bentuk kontribusi kami dalam membangun narasi kemajuan daerah. Setiap program pemberdayaan yang sukses, setiap keluarga yang menjadi lebih sejahtera, adalah bagian dari tulisan baru yang kami goreskan dalam halaman pembangunan Halmahera Tengah. Kami, para perempuan, adalah penulis aktif dalam buku sejarah daerah kami sendiri.
Oleh karena itu, momentum Hari Pers Nasional tahun ini menjadi refleksi yang mendalam. Pers yang sehat adalah cermin demokrasi yang hidup, dan demokrasi hanya akan bermakna jika seluruh elemen masyarakat, termasuk perempuan, memiliki suara dan akses yang sama untuk berkontribusi. Membaca sejarah Boki Fatimah mengingatkan kita bahwa memperjuangkan hak bersuara dan berpendapat adalah tugas bersama.
Marilah kita, sebagai perempuan, terus melanjutkan warisan keberanian ini. Baik itu melalui media formal seperti jurnalisme, melalui tulisan-tulisan di platform digital, maupun melalui “aksi-aksi menulis” kita di lapangan kehidupan nyata: dalam program pemberdayaan, dalam advokasi kebijakan, dan dalam pendidikan anak-anak kita sebagai generasi penerus. Setiap langkah positif adalah sebuah kalimat; setiap pencapaian adalah sebuah paragraf; dan seluruh perjuangan kita bersama akan membentuk sebuah bab baru yang gemilang dalam sejarah bangsa.
Selamat Hari Pers Nasional, 9 Februari 2026. Mari terus menulis sejarah dengan aksi, pemikiran, dan hati yang membumi. Teruslah bersuara, teruslah berkarya, karena seperti Boki Fatimah, pena perubahan itu ada di tangan kita.
