Pengerahan TNI ke Jakarta, Apakah Posisi Prabowo Terancam Jatuh?

Foto Facebook Made Supriatma

Oleh Made Supriatma, Peneliti

Bangsit alias Perkembangan Situasi: Ini ada apa ya? Kok pake pengerahan 21 ribu pasukan segala. Ini jumlah yang besar sekali. Ini untuk menyikapi Bangsit (Perkembangan Situasi). Lho memang ada apa? 

Ada jendral-jendral polisi yang ditangkapi. Katanya karena melakukan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo, pejabat-pejabat, ketua-ketua partai, dan lain-lainnya. 


Tapi kok mengerahkan pasukan besar-besaran ke Jakarta? Ada apa? Apakah kita sedang mengalami krisis politik? Kok yang dikerahkan adalah TNI-AL. Memang sebagai BKO Kodam Jaya. Juga Kopassus diturunkan. 


Apakah Prabowo sudah sedemikian lemahnya? Kepemimpinan yang kuat itu bisa menyelesaikan konflik internal tanpa harus terlihat dari luar dan tanpa pengerahan kekuatan. 


Apakah pemerintahan ini sudah sampai tahap demikian krisisnya sehingga tidak bisa mengatasi masalah didalamnya? 


Kemarin-kemarin pemerintah ini masih mengancam-ancam semua yang dirasakan menghalanginya -- antek asing (NGO), mahasiswa, perusahan-perusahan, kemudian konfrontasi kepada negara-negara lain. Gagah dan nasionalis sekali tampaknya. Semuanya ditantang. 


Eh, sekarang kok musuhnya ternyata ada di dalam? Dan, rejim-rejim gabut seperti ini biasanya kemudian mencurigai semuanya. Eh, ternyata musuhnya ada di dalam selimut. "Et tu, Brute?" atau "Kau jugakah, Brutus?" tanya Julius Caesar kepada Junius Brutus pembantu terdekatnya yang mengkhianatinya. 


Penguasa paranoid itu selalu curiga. Dia menciptakan kepompong dan melingkari dirinya dengan lingkaran dalam kepercayaan, yang uniknya justru ikut mengkhianatinya. Masih ingat Harmoko pada akhir jaman Orde Baru? Orang yang paling tandas menjilat Soeharto dan menjadi orang yang paling dulu mengkhianatinya? Itu terjadi ketika kekuatan Soeharto melemah. 


Nah, kalau ada orang yang bilang bahwa sekarang Prabowo sedang mengkonsolidasikan kekuasaannya dan dia akan semakin kuat, saya agak berbeda pendapat. Ini adalah 'the tipping point." Titik puncak yang bisa memperkuat kekuasaannya namun juga bisa menjadi awal kejatuhannya. 


Melihat krisis multi dimensional dari rejim ini -- mulai dari ekonomi yang nyungsep, krisis energi, krisis fiskal, krisis kepercayaan pasar; lingkungan akibat pembakaran hutan, bencana, dll.; krisis tata kelola pemerintahan: efisiensi yang berakhir dengan perampasan anggaran untuk pelayanan publik -- saya kira, ini adalah 'tipping point' yang bisa jadi akan menjadi awal keruntuhan, kalau tidak ditangani dengan hati-hati.


Rejim ini mungkin bisa selamat. Tapi dengan damage atau kerusakan yang sulit untuk diperbaiki. 


Sekarang, sebagai penonton yang baik, kita akan menyaksikan para monyet sedang menonton kebakaran. Monyet-monyet ini sedang berpikir dan mengkalkulasi, apakah ini saatnya cari pohon yang lain? Apakah pohon yang ada sekarang, yang semakin meranggas dan tidak punya buah, dan buah yang ada malah dimakan pemiliknya sendiri, itu akan memberikan masa depan? 


Pertanyaannya tetap: Mengapa perlu mengerahkan 21 ribu pasukan (dan mungkin puluhan ribu dari kesatuan lain) untuk Bangsit (perkembangan situasi) yang tidak jelas ini? 


Iya, Sodara-sodara, situasi apa yang berkembang kita tidak tahu. Namun satu yang kita tahu: pasukan dikerahkan demikian banyak karena ada sesuatu. 


Bangsit, eh?