Pemilik CV Sebut Rumah Layak Huni Sagea Sudah Selesai: Tidak Benar di Bangun Pakai Uang Sendiri

ilustrasi RLH

COGOIPA, HALTENG — Terkait pemberitaan mengenai Bantuan Rumah Layak Huni senilai Rp250 juta di Sagea yang diduga tidak sesuai fakta, warga meminta kontraktor menunjukkan itikad baik. Berikut penjelasan Fahris, pemilik CV yang terlibat dalam proyek tersebut.

Fahris menjelaskan bahwa paket pekerjaan ini bukan miliknya secara pribadi, melainkan ada pihak lain yang menggunakan bendera CV-nya. Paket tahun 2025 tersebut, menurutnya, telah diselesaikan seluruhnya pada tahun 2026.

"Saya diminta untuk mengerjakan karena sebagai pemilik CV. Saya turun langsung melihat lokasi yang sudah memiliki fondasi. Saya bertemu dengan Gani yang memiliki fondasi tersebut, bertemu dengan istrinya, mengambil KTP, dan mengirimkannya ke dinas. Satu minggu kemudian direalisasikan," jelas Fahris.

Fahris mengungkapkan bahwa Gani mengaku kepadanya bahwa fondasi dan material lokal lainnya diambil dari pihak Gani di lokasi, meskipun tidak dibayar. "Karena saya juga belum terlalu paham kondisi di Sagea, saya berpikir apa yang dikatakan itu benar," ujarnya.

Setelah itu, Fahris mengaku menurunkan material toko berupa 50 sak semen untuk pekerjaan awal, kemudian menyusul 50 sak lagi sehingga totalnya 100 sak semen, 5 kubik kayu ukuran 5x10, besi 10 sebanyak 50 batang, dan besi 6 sebanyak 17 batang. Setelah itu menyusul material toko lainnya.

Rumah layak huni tersebut berukuran 7x6, namun menurutnya ukuran rumah tidak sesuai dengan ukuran yang ada di RAB (Gambar). Total tehel yang digunakan untuk ukuran rumah 6x7 sebanyak 42 dos, sedangkan tehel ukuran 50x50 yang dibeli seluruhnya 55 dos, sementara rumahnya membutuhkan tehel lebih banyak. Fahris mengaku membeli sekitar 50 dos tehel.

"Semua material saya bayar, termasuk seng dan lain-lain," tegasnya.

Fahris juga menyatakan bahwa jika dihitung, proyek tersebut seluruhnya sudah selesai. Ia membantah pernyataan video yang menyebar yang menyebutkan bahwa pihak lain yang membangun dengan uangnya sendiri.

"Saya juga memberikan uang kontan sejak awal rumah dibangun sebesar Rp14 juta di awal sebelum rumah mau dibangun," tambahnya.

Menurut Fahris, jika rumah tidak selesai, maka rumah tersebut tidak mungkin ditinggali. Ia berharap ada itikad baik dari semua pihak terkait pemberitaan yang beredar.