Kenapa Harus Takut dengan Film?

8 Mei 1993 merupakan hari di mana Marsinah ditemukan tewas. Vaginanya ditembak. Ia hanya memperjuangkan upah layak bagi buruh di masa Orde Baru. Walau kini ia telah menjadi pahlawan nasional, pelaku yang membunuhnya masih saja belum diadili.
Pada 8 Mei 2026, tepat di malam hari, kami bergegas ke Benteng Orange, Kota Ternate, untuk menonton Film Pesta Babi yang diselenggarakan oleh para jurnalis dan media di Ternate. Pukul 20.30 WIT, kami tiba di lokasi, tetapi acaranya belum dimulai. Kami berupaya mengonfirmasi panitia. Ternyata, sudah banyak pihak intelijen yang mengawasi acara tersebut. Menurut panitia, pemutaran film itu sempat akan dibubarkan oleh para intel.
Panitia akhirnya bernegosiasi dan acara pun dimulai. Setelah film diputar, ada puluhan orang yang menonton. Terlihat banyak anak muda. Mereka menonton dengan penuh hikmat, sedih, dan tegang. Pasalnya, film dokumenter yang sangat realisme sosialis itu membongkar bagaimana proyek-proyek strategis nasional di Papua yang dilancarkan oleh Pemerintah Indonesia justru banyak merampok tanah dan hutan adat.
Dalam suasana tersebut, satu orang tentara berseragam berada di tengah-tengah orang yang menonton sambil mengambil foto para penonton. Di belakang acara, juga banyak intel yang berlalu-lalang. Tragisnya, proyek-proyek tersebut dijaga ketat oleh TNI. Selain itu, Haji Hisam, sebagai seorang oligarki, juga turut menjadi aktor sekaligus investor dari proyek-proyek seperti food estate, sawit, dan industri pertambangan. Film ini secara terang-terangan membongkar kepentingan elit borjuis nasional, TNI-Polri, dan oligarki.
Belum lagi setengah acara berjalan, di samping lokasi mulai muncul kerumunan. Panitia dipanggil oleh gabungan intel TNI-Polri. Upaya untuk menghentikan pemutaran film pun dilakukan. Tak lama kemudian, kerumunan tersebut masuk ke dalam acara, tepat di depan layar. Seseorang berbaju putih yang mengaku komandan TNI menyampaikan bahwa film ini mengandung provokasi. Untuk itu, ia meminta agar pemutaran film dihentikan kepada panitia. Padahal, sekali lagi, film itu tidak ada unsur provokasi sama sekali. Alur filmnya menjelaskan fakta dan realita yang terjadi di Papua.
Para penonton yang hadir sangat kecewa atas perlakuan TNI-Polri tersebut. Penonton kemudian mengarahkan ponsel mereka untuk merekam orang yang mengaku komandan TNI itu. Seorang kawan dengan nada emosi mengungkapkan, "Kita hidup sudah seperti di zaman Orde Baru. Untuk diskusi film saja kita diawasi intel TNI-Polri."
Saya lalu menyambungkan, "Buku yang kiri mereka takut. Film seperti ini juga mereka takut."
Seorang kawan lalu meneruskan, "Mereka takut dengan film ini karena menunjukkan fakta secara jelas bagaimana negara, TNI-Polri, dan oligarki punya kepentingan di Papua."
Negosiasi terus dilakukan. Pemutaran film tidak diizinkan oleh orang yang mengaku komandan TNI tersebut. Ia menyampaikan bahwa diskusi boleh dilakukan, asal jangan memutar film. Bagaimana mungkin kami mau berdiskusi kalau filmnya tidak diputar? Ini sama saja bagaimana kami mau diskusi buku kalau bukunya tidak pernah dibaca? Sungguh logika yang tidak masuk akal dari komandan TNI ini.
Aneh, ya, kok bisa mereka yang bertugas menjaga keamanan negara—yang seharusnya lebih takut kalau negara ini diserang oleh musuh bersenjata—malah takut kepada film dokumenter?
Padahal, film dokumenter adalah film yang mendokumentasikan kenyataan. Istilah "dokumenter" pertama kali digunakan dalam resensi film Moana (1926) karya Robert Flaherty, ditulis oleh The Moviegoer (nama samaran John Grierson) di New York Sun pada tanggal 8 Februari 1926.
Masa sih takut dengan kenyataan yang diceritakan dalam Film Pesta Babi? Justru jika acara pemutarannya dibubarkan oleh TNI-Polri, di situlah letak menariknya film Pesta Babi. Itu mengonfirmasi bahwa apa yang diceritakan benar adanya.
Agak susah memang kalau kita tidak pernah membaca buku dan mempelajari sastra, apalagi tidak pernah membaca sejarah yang benar. Para intel TNI-Polri yang hadir dan membubarkan pemutaran film itu terlihat memang tidak pernah membaca, bahkan mempelajari sastra maupun sejarah. Maka tak heran, untuk memahami judul Pesta Babi saja, mereka anggap provokasi.
Padahal mereka sendiri tak pernah menonton. Judul film itu nilai sastranya sangat tinggi: karena membongkar secara terang-terangan dugaan keterlibatan aparat dan "konglomerat hitam", masih adanya praktik "kolonialisme di zaman kita" dalam bentuk modern, mengangkat isu militerisme dan konflik ekologis. Bahkan film ini bisa memicu kesadaran publik serta menjadikan kekuatan visual sebagai alat kritik.


Lebih baru Lebih lama