Warga Lelilef Woebulen dan Sawai, Yang Paling Berkorban di Balik Kehadiran Investasi IWIP

Foto istemewa, ilustrasi cogoipa.online

Dalam setiap hela napas pembangunan yang berlangsung di tanah Halmahera Tengah, ada cerita-cerita lokal yang sering luput dari perhatian pusaran kepentingan besar. Salah satunya adalah suara dari masyarakat Lelilef Woebulen dan Sawai.

Mereka bukan sekadar penonton di negeri sendiri, melainkan pihak yang paling berkurban atas kehadiran investasi yang kini menjadi nadi kehidupan banyak keluarga buruh. Sudah saatnya kita menyimak dengan saksama, bahwa di balik angka-angka investasi, terdapat sejarah panjang pengorbanan dan sebuah tuntutan keadilan yang mendasar.

Masyarakat Lelilef dan Sawai telah hidup berdampingan dengan alam selama berpuluh tahun. Mereka mengais rezeki dari kebun dan hasil laut, menjalani kehidupan yang sederhana namun sarat nilai.

Dari kesederhanaan itu, mereka berhasil mengantarkan anak-anak mereka meraih gelar sarjana. Ini bukanlah pencapaian yang kecil. Ia menunjukkan bahwa ketekunan dan kearifan lokal adalah modal besar yang tak ternilai. Ketika investasi kemudian hadir di kampung halaman mereka, pola interaksi ekonomi mereka berubah secara fundamental.

Bagi mereka, kehadiran investasi ini bukan sekadar proyek, melainkan sebuah malapetaka bagi mereka. Karena itu, wajar jika mereka kemudian meminta, perusahaaan untuk memberikan pelayanan terbaik bagi kampung mereka. Bahkan bisa lebih, agar bandara yang ada segera dikomersialkan dan dibangun jalan layang di kampung sebagai bentuk akses yang memadai atas berkah yang selama ini telah menghidupi banyak pihak.

Namun, ironi pembangunan kerap kali melahirkan kesenjangan perlakuan. Di satu sisi, ada masyarakat  Lelilef Woebulen dan Sawai yang wilayahnya kaya akan sumber daya alam (SDA) sehingga menjadi lokasi strategis bagi investasi. Di sisi lain, ada pihak-pihak yang mungkin tidak memiliki SDA di kampungnya, namun justru mendapat keuntungan lebih. 

Dalam struktur perusahaan yang beroperasi di tanah orang lain. Pertanyaan kritisnya kemudian muncul: sejauh mana keadilan ditegakkan? Apakah mereka yang tanah dan kehidupannya menjadi lokasi investasi hanya berperan sebagai penonton, sementara yang datang kemudian justru menuai kendali penuh?

Kegelisahan ini bukan tanpa alasan. Ketika masyarakat Lelilef Woebulen dan Sawai menyuarakan agar investasi yang selama ini ada dikelola dengan mempertimbangkan mereka sebagai tuan rumah, itu bukanlah bentuk permintaan yang berlebihan. Mereka berhak atas kemudahan akses, fasilitas publik yang memadai, serta jaminan bahwa pengelolaan sumber daya tidak menghilangkan hak-hak dasar mereka.

Lebih dari itu, pernyataan yang dilontarkan dengan nada keras sesungguhnya adalah bentuk kekecewaan yang tertahan. Tetapi di dalamnya tersirat pesan mendalam: perlakukanlah pemilik tanah dengan adil, atau biarkan mereka yang tidak berkurban menikmati sendiri konsekuensinya.

Pada akhirnya, esai pendek ini ingin menegaskan bahwa pembangunan yang berkelanjutan hanya akan terwujud jika ada keadilan ekologis dan ekonomi bagi masyarakat adat dan lokal. Pengorbanan orang Lelilef dan Sawai selama berpuluh tahun tidak boleh dibalas dengan marginalisasi.

Mereka yang hidup di wilayah dengan SDA seharusnya menjadi subjek utama, bukan sekadar objek, dari kehadiran investasi. Karena sesungguhnya, berkat yang datang dari leluhur hanya akan menjadi nyata jika dikelola dengan tangan yang adil dan hati yang mendengarkan.(*)

Lebih baru Lebih lama
COGOIPA