Krisis Minyak Global Meluas: Filipina Deklarasi Darurat, Australia Kehabisan Stok di SPBU, Indonesia di Persimpangan?

Ilustrasi cogoipa.online

COGOIPA.ONLINE Perang yang meluas antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki hari ke-30. Konflik yang awalnya diprediksi akan berlangsung singkat justru berbalik ketika Iran berhasil melancarkan serangan balasan yang signifikan, mengubah peta geopolitik sekaligus mengguncang fondasi ekonomi global.

Analisis menunjukkan Iran tidak hanya bertahan, tetapi justru unggil dalam pertempuran strategis. Langkah paling krusial adalah penutupan Selat Hormuz, jalur vital pengangkut sekitar 20% minyak dunia. Akibatnya, rantai pasok energi global lumpuh. Tak hanya itu, Iran juga melancarkan serangan terhadap pangkalan militer Amerika di negara-negara Teluk serta pusat-pusat strategis milik Israel, memaksa eskalasi yang membuat harga minyak melonjak tak terkendali.

Krisis energi yang diprediksi pakar ini akhirnya mewujud menjadi bencana di kawasan Asia Pasifik. Filipina menjadi negara pertama di dunia yang secara resmi mendeklarasikan status darurat nasional akibat krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) global.

Berdasarkan laporan yang dilansir Tempo.co, deklarasi darurat di Manila diambil setelah pemerintah Filipina mengakui tidak mampu lagi menjamin distribusi BBM untuk kebutuhan transportasi publik dan kelistrikan. Antrean panjang kendaraan bermotor di seluruh stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) terjadi sejak pekan kedua konflik. Harga BBM di pasar gelap melambung hingga 400%, memicu protes massal dan kelumpuhan aktivitas ekonomi di negara kepulauan tersebut.

Sementara itu, kondisi yang lebih mengkhawatirkan terjadi di Australia. Dikutip dari detikfinance, Australia dilaporkan telah kehabisan stok BBM di seluruh SPBU-nya. Negeri Kanguru tersebut, yang dikenal memiliki ketergantungan tinggi pada impor bahan bakar olahan, gagal mengamankan pasokan setelah jalur distribusi dari Timur Tengah terputus total.

"SPBU dari Sydney hingga Perth dilaporkan tutup atau hanya menjual solar dalam jumlah sangat terbatas yang cepat habis dalam hitungan menit. Pemerintah Australia kini memberlakukan sistem jatah ketat untuk kendaraan darurat dan logistik pangan," tulis laporan tersebut.

Di tengah kekacauan global, posisi Indonesia disebut berada dalam dilema tajam. Sebagai negara yang baru bergabung dalam (BOP), Indonesia kini dihadapkan pada kebingungan arah kebijakan dan krisis minyak yang menghantui.

Dikutip dari berbagai media, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan stok BBM nasional hanya cukup untuk 30 hari ke depan. Para pakar ekonomi dan energi bahwa Indonesia berpotensi menyusul Filipina dan Australia dalam kekurangan pasokan.

Para pengamat memperingatkan bahwa perang ini bukan lagi sekadar konflik teritorial, melainkan perang ekonomi total. Sejalan dengan teori David Harvey, siapa yang menguasai sumber energi (minyak) akan menguasai dunia. Kini, dengan Selat Hormuz yang menjadi medan perang, kekuasaan itu sedang diperebutkan, sementara negara-negara seperti Filipina dan Australia menjadi korban pertama yang ambruk akibat kelangkaan.

Lebih baru Lebih lama
COGOIPA