Marthinus Hukom, Polisi yang Berani Melawan Operasi Politik Listyo Sigit

Oleh Islah Bahrawai

Namanya Marthinus Hukom. Dia lahir di pulau kecil sebelah timur Ambon bernama Nusalaut. Selain polisi berpangkat "bintang tiga" Marthinus juga seorang doktor filsafat alumni STF Driyarkara, Jakarta. Jabatan terakhirnya adalah kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) dan pernah menorehkan prestasi menangkap penyelundupan narkotika jenis Shabu di perairan Batam seberat 2 ton. Rekor tangkapan terbesar yg pernah dilakukan oleh penegak hukum di Indonesia.

Sebelumnya, Marthinus adalah kepala Densus 88 Anti Teror POLRI. Di tangannya, Densus 88 berhasil mengakhiri kelompok Ali Kalora (MIT) di Gunung Biru, Poso. Dia juga terlibat langsung dalam perburuan buronan yg terlibat dalam berbagai kasus teror di sepanjang 2000-2009, di antaranya Dr. Azahari, Noordin M. Top, Amrozi, Imam Samudra dan Dulmatin.
Marthinus menghabiskan karirnya sebagai intelijen. Dia analis intelijen yg handal sejak awal. Instingnya kuat. Dia bisa secara presisi membaca "connecting chart" antar jaringan dan memadukannya dalam berbagai potensi koordinat yg krusial. Dalam dunia intelijen yg harus dilanjutkan dengan penangkapan gerak cepat seperti di Densus 88, kemampuan yg dimiliki Marthinus hampir tak bisa ditandingi siapapun.
Sayangnya, pasca lepas dari kepala BNN, Marthinus tidak lagi mendapat jabatan apapun di dalam institusi POLRI. Dia mungkin menjadi satu-satunya jenderal bintang tiga yg dibiarkan nganggur tanpa penugasan selama setahun lebih. Sejak Agustus 2025 Marthinus Hukom "dikotakkan" oleh Kapolri masa itu, Listyo Sigit.
Apa pasal Sigit membiarkan temannya itu berdinas tanpa jabatan? Tentu saja bukan kebetulan. Marthinus satu-satunya perwira tinggi polisi yg berani melawan Listyo sebelum Pemilu 2024. Di mana ketika itu, Sigit membawa institusi POLRI untuk melayani hasrat politik Jokowi. Marthinus tidak mau membawa kesatuan yg dipimpinnya untuk terlibat dalam operasi politik Listyo Sigit. Perlawanan itu, membuatnya harus kehilangan jabatan sejak pertengahan 2025.
Ketika mendengar LSP ditangkap karena penyadapan, Marthinus meluapkan perasaannya. Status whatsapp-nya direkam banyak orang. Dia ingin mengobati luka bathinnya yang selama ini dianiaya oleh Listyo Sigit, teman seangkatannya.

Tulisan ini diambil dari postingan Islah Bahrawi