PPMW Jakarta Selenggarakan Diskusi Rutin tentang Sejarah dan Nilai Budaya Halmahera Tengah

PENGURUS PPMW BERSAMA BANG BAKIR OESMAN SAAT DISKUSI BERJALAN

Cogoipa, Jakarta – Perhimpunan Pelajar Mahasiswa Weda (PPMW) Jakarta menggelar diskusi rutin bertajuk "Dari Sejarah Menuju Masa Depan" dengan tema "Membangun Paradigma Generasi Muda Melalui Falsafat Fagogoru". Kegiatan berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, di Asrama Were, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, dan terbuka untuk umum.

Diskusi menghadirkan Abang Bakir Oesman, Pegiat Literasi Halmahera Tengah, sebagai narasumber, dan dimoderatori oleh Husain Munawar, Sekretaris Jenderal PPMW Jakarta. Acara ini menjadi ruang belajar bagi mahasiswa dan masyarakat untuk memahami sejarah, nilai budaya, serta relevansi falsafah Fagogoru bagi generasi muda saat ini.

Narasumber menjelaskan bahwa Fagogoru bukan sekadar identitas budaya Halmahera Tengah, melainkan sistem nilai yang melalui tiga fase utama, yaitu fase Animisme dan Dinamisme, fase Ketauhidan saat Islam mulai berkembang, dan fase Penyatuan Fagogoru yang memadukan nilai lokal dengan ajaran Islam. Fagogoru dan ketauhidan memiliki landasan yang sama, yaitu nilai ketuhanan yang mengajarkan kasih sayang, kepedulian, dan penghormatan antarsesama.

Salah satu konsep dasar yang dijelaskan adalah Ngaku Re Rasai, yaitu pengakuan terhadap diri, sesama, dan Sang Pencipta sebagai fondasi kehidupan. Dari konsep ini lahir nilai Budi Re Bahasa (santun bertutur dan bertindak), Sopan Re Hormat (hormat kepada orang tua, tokoh adat, dan sesama), serta Mtat Re Meymoi (kebersamaan dan semangat saling membantu). Dalam praktik sehari-hari, narasumber juga menyebutkan adab memberi salam (Suba) dengan meletakkan tangan di dada sebagai simbol penghormatan dan kerendahan hati.

Diskusi juga mengulas sejarah masa Kolano Sahjati sekitar tahun 1081 M serta struktur sosial seperti Pnu, Gelet, dan Wlon. Cerita lisan mengenai Bangsa Lina dan Bangsa Isa, termasuk istilah "Isa, Isa Le, Isa Wai, dan Isa Mola", disebut sebagai memori kolektif masyarakat Maluku Utara sebelum masa Kolano Sahjati.

Perbedaan antara Fanten dan Maulid juga dibahas. Fanten merupakan tradisi dengan akar budaya lebih tua, sedangkan Maulid berkembang sebagai tradisi keagamaan Islam. Narasumber menekankan bahwa penyebaran Islam di Halmahera tidak menghilangkan tradisi lokal, tetapi mentransformasikannya agar tetap lestari tanpa kehilangan nilai keislaman, seperti keterkaitan Fanten dengan tradisi Isa.

Tradisi Cokaiba dijelaskan melalui tiga fase: Mef (fase awal sebagai fondasi budaya), Cogo Ipa (fase transisi), dan Cokaiba (berkembang pada masa kesultanan, dengan dinamika penamaan yang masih menjadi diskusi akademik). Narasumber juga menyampaikan pentingnya pembacaan kritis terhadap sejarah budaya, termasuk filosofi Lalayon yang mengandung nilai kebersamaan, keseimbangan, dan keharmonisan.

Ketua PPMW Jakarta menyampaikan bahwa diskusi rutin ini merupakan komitmen organisasi dalam meningkatkan literasi sejarah, budaya, dan intelektualitas mahasiswa Weda di Jakarta. PPMW berharap generasi muda tidak hanya memahami identitas budayanya, tetapi juga menjadikan falsafah Fagogoru sebagai pedoman membangun karakter, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi Halmahera Tengah.

PPMW Jakarta berkomitmen terus menghadirkan ruang diskusi produktif sebagai wadah bertukar gagasan, memperkuat identitas budaya, serta membangun kesadaran bahwa sejarah adalah fondasi penting dalam merancang masa depan.

"Dari sejarah kita memahami jati diri, melalui Fagogoru kita membangun peradaban generasi muda yang berkarakter, berbudaya, dan berketuhanan." (*)

Lebih baru Lebih lama