![]() |
| Susanah |
Oleh Made Supriatma
Kita mulai dari Jason Arday, seorang profesor Sosiologi dari Universitas Cambridge. Dia adalah profesor termuda yang pernah diangkat oleh Cambridge. Tidak itu saja. Dia berkulit hitam.
Kalau Anda paham dalam sistem rasial di negara seperti Inggris atau Amerika Serikat, Anda pasti tahu bahwa cerita jalan hidup Jason Arday itu seperti kisah keajaiban. Bocah dari daerah kumuh di bagian selatan London bisa menjadi profesor di Universitas Cambridge!
Cerita ini bisa jadi inspiratif. Ia bisa menjadi cerita motivator: Anda bisa menjadi apapun di dunia ini asal kerja keras. Asal punya semangat, ya semangat untuk jadi pemenang!
Ia juga bisa menjadi proyek percontohan di universitas semacam Cambridge, institusi elit yang mahasiswanya sebagaian besar dari lapisan elit juga. Jason Arday menjadi semacam 'examplar' untuk Cambridge. Juga dijadikan proyek emansipasi: bahwa Cambridge terbuka untuk siapa saja yang pintar dan pekerja keras.
Hanya saja, cerita bocah ajaib ini kemudian berbalik. Orang mulai menyelidiki tulisan-tulisan Jason Arday. Mereka mendapati bahwa dia melakukan plagiarisme di beberapa bagian disertasinya. Dia juga mengarang sejumlah data risetnya. Dan, anak ajaib kesayangan Cambridge ini jatuh.
Minggu lalu dia mengundurkan diri. Kemarin saya baca dia ditemukan sudah meninggal.
Tragis. Dan, media-media Inggris, yang membantu mengamplifikasi kasus Jason Ardy kemudian rame-rame memberitakan tragedi ini. Para politisi, mulai dari PM Inggris hingga ke Walikota London semuanya mengecam. Mereka menyalahkan Cambridge yang tidak memeriksa terlebih dahulu latar belakang Jason Ardy dan tidak teliti menelisik disertasinya.
Di luar sana, dunia akademik itu keras. Ini adalah dunia yang memang secara penghasilan tidak akan membuat Anda kaya raya. Anda tidak akan bisa mendapat 0,1 persen kekayaan Elon Musk atau Bill Gates dengan menjadi akademik (dosen).
Namun persaingan sangat tinggi. Jalan untuk ke sana sangat terjal. Orang dilatih bertahun-tahun. Pada tahun-tahun awal, orang hidup dengan upah minimum dan kerja keras melebihi batas jam kerja.
Ketika sudah mendapat posisi tetap, hidup memang menjadi lebih nyaman. Namun itu tidak berkelebihan juga. Beberapa kawan saya yang menjadi profesor masih harus menghitung ketat pengeluarannya.
Dan, disana ada hirarki. Ketika Anda menulis buku dan buku itu menarik perhatian banyak orang serta dipakai sebagai rujukan di kelas-kelas, disanalah Anda bisa naik ke kasta Brahmana. Ini akan sangat terlihat di konferensi-konferensi. Ruang ceramah Anda akan penuh sesak. Sementara, ilmuwan junior -- atau yang selamanya junior -- hanya akan diisi satu dua orang. Itu pun biasanya adalah kolega-kolega terdekat.
Sebenarnya, ada cerita lain yang serupa tapi tak sama dengan Jason Arday. Itu adalah tentang Alice Goofman, yang menulis buku sangat bagus berjudul "On the Run: Fugitive Life in an American City." Ini adalah buku tentang polisi, penguntitan, dan kriminalitas di kota Philadelphia, Amerika Serikat.
Goofman perlu waktu enam tahun hidup di perkampungan kumuh Phily. Dia mengikuti kelompok pengedar nark0ba. Dia juga menceritakan secara detail kekerasan yang terjadi baik oleh polisi maupun di dalam kelompok ini.
Seperti Jason Arday, Goofman adalah 'the rising star' dalam bidang sosiologi. Metode ethnografinya dalam memahami sistem keadilan saat itu dikatakan sebagai sesuatu yang luar biasa. Hanya saja, kemudian orang menelisik karyanya. Dia tidak memperlihatkan konsistensi antara waktu kejadian yang ditulis di bukunya dan catatan kepolisian.
Alice juga menghancurkan catatan-catatan etnografis yang dia miliki. Ini bisa dipahami karena catatan-catatan itu bisa dipakai untuk menjeratnya secra legal.
Orang mulai curiga. Dia juga menghadapi problem etik. Dia melihat terjadinya kekerasan dan bahkan pemb4n4h@an namun tidak melaporkannya ke polisi. Dia juga mendapat tuduhan melakukan 'racial profiling' karena medan penelitiannya di daerah kumuh yang dihuni komunitas kulit hitam.
Kritik bertubi-tubi membuat univesitas yang mempekerjakannya tidak memberinya posisi tetap (tenure). Alice Goofman akhirnya mengundurkan diri dari dunia akademik.
Tragis. Karena Alice adalah putri dari seorang sosiolog yang amat terkenal, Erving Goofman.
Di negeri kita ini, posisi sebagai insan akademis juga berat. Tidak saja berat secara ilmiah namun juga menghadapi tekanan politik. Ada hal-hal yang tidak boleh dibicarakan oleh insan akademis. Itu satu. Yang kedua adalah tekanan politik.
Saya seringkali mendengar kawan-kawan yang memilih waras sebagai akademik bahwa mereka menghindar menjadi pembimbing atau penguji akademis politisi atau pejabat.
Seperti yang kita ketahui, kasta pejabat dan politisi di negeri ini sangat rakus. Mereka tidak akan puas kalau nama depannya tidak ada doktor dan profesor. Seolah-olah gelar itu sama dengan gelar keningratan.
Tapi sudahlah. Kita tahu betapa bangsatnya kelakuan mereka. Dan kita pun tidak berharap dunia akademik akan menjadi baik karena begitu banyaknya kuman yang menggerogotinya baik dari luar mau pun dari dalam.
Hanya saja, seperti badan, ada juga akademisi-akademisi yang memilih untuk tidak menjadi sakit dan busuk. Tentu kita berharap banyak dari mereka dan mendukung perjuangannya.
Itulah yang pagi ini membuat saya berpikir bahwa sesungguhnya nasib akademisi kita tidak berbeda dengan nasib Susanah, pengupas bawang, yang oleh Presiden Prabowo di dalam pidato kenegaraannya disebut menerima upah Rp 700 ribu per kilogram.
Susanah segera menjadi sensasi dunia maya. Dia menjadi bahan ejekan, candaan, makian, dan segala macamnya. Jutaan meme diciptakan. Gambar mukanya yang membeku ketika disebut oleh Prabowo tersebar dimana-mana.
Dia hanyalah orang kecil. Pekerjaan sehari-harinya menjahit. Kalau sore dia menjadi pencuci ompreng di dapur MBG. Dia juga menjadi pengupas bawang dengan upah hanya Rp700/kg.
Saya bisa bayangkan bagaimana orang kecil yang hendak dipakai sebagai 'poster child' oleh presiden Indonesia kemudian nasibnya berubah menjadi petaka. Dia menjadi bahan tertawaan dan makian seluruh bangsa.
Persis seperti Cambridge memperlakukan Jason Arday.
Dan, yang lebih menyesakkan untuk saya adalah istana tidak segera mengklarifikasi isu ini. Hingga sekarang, saya tidak mendapati istana buka suara untuk soal ini. Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, hanya mengatakan akan mengecek.
Menurut saya, Prabowo Subianto sebagai pribadi dan Presiden RI harus meminta maaf kepada Susanah atas pidato yang ngawur ini. Dia harus memberikan kompensasi atas tekanan mental yang luar biasa yang pasti dialami Susanah dan keluarganya.
Kompensasi tentu bukan sesuatu yang amat berat untuk Prabowo secara pribadi. Jika satu kudanya kabarnya bisa berharga beberapa milyar, tentu tidak berat baginya memberikan kompensasi untuk Susanah dan keluarga.
Namun, yang terpenting adalah Presiden Republik Indonesia berhutang maaf yang tak terhingga pada Susanah, orang kecil yang mencari makan dengan menjahit, mencuci ompreng, dan mengupas bawang.
Dia harus menjalani beberapa pekerjaan sekaligus setiap hari untuk bisa menghidupi keluarganya. Susanah adalah cerminan pekerja keras, yang sering digambarkan Prabowo sebagai orang miskin namun tetap tersenyum.
Dia adalah kaum yang selalu dipidatokan oleh Prabowo akan diangkat dari kemiskinan. Namun justru orang seperti Susanah yang sering digambarkan secara peyoratif entah sengaja atau tidak.
Saya percaya bahwa Susanah tidak akan seperti Jason Arday. Dia lebih memiliki daya tahan. Semoga!
