Ketika Cogo Ipa Mulai Menakutkan

“Catatan seorang pemuda Weda untuk para tetua adat, tokoh agama, pemuda, dan seluruh masyarakat Halmahera Tengah


Saya menulis ini bukan karena saya merasa lebih tahu daripada para tetua. Saya juga tahu diri, tidak bisa hadir dalam setiap pertemuan dan musyawarah yang sedang dilakukan karena pekerjaan membuat saya harus berada jauh dari Weda.


Namun, sebagai anak muda Weda, saya merasa tetap memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan keresahan dan harapan. Saya mencintai Cogo Ipa. Saya ingin tradisi ini tetap hidup, tetap menjadi identitas masyarakat Fagogoru, dan tetap diwariskan kepada anak cucu kita.


Tetapi justru karena saya mencintainya, saya merasa kita perlu berani bertanya. “Bagaimana Cogo Ipa dapat terus hidup tanpa kehilangan ruh Islam dan nilai-nilai Fagogoru, sekaligus mampu menyesuaikan diri dengan Weda yang sudah berubah?”


Sebab Weda hari ini bukan lagi masyarakat yang sama seperti dahulu. Kota Weda semakin ramai. Orang datang dari berbagai daerah dengan latar belakang adat, budaya, agama, dan kebiasaan yang berbeda. Perkembangan pertambangan juga membuat mobilitas manusia semakin tinggi.


Dalam keadaan seperti ini, sesuatu yang dahulu dipahami bersama sebagai adat, belum tentu dipahami dengan cara yang sama oleh orang yang baru datang dan tinggal di Weda.


Di sinilah, menurut saya, kita harus berhati-hati. Cogo Ipa bukan sekadar topeng dan rotan. Bagi saya, Cogo Ipa bukan hanya orang memakai topeng, berlari, mengejar, atau memainkan rotan.


Jika kita mau lebih kritis mendalami filosofi dari kemunculan tradisi Cogo Ipa itu sendiri, kita akan menemukan di dalamnya terdapat sejarah, adat, keislaman, persaudaraan, dan nilai Fagogoru.


Karena itu, saya khawatir jika pelaksanaan Cogo Ipa terlalu menonjolkan sisi mengejar dan memukul, sementara nilai yang mendasarinya semakin tidak terlihat. Kita harus bertanya kepada diri sendiri. Apakah Cogo Ipa akan kita wariskan sebagai tradisi persaudaraan, atau hanya sebagai permainan yang membuat orang takut?


Jika Cogo Ipa mengakibatkan orang terluka, pertengkaran, dendam, atau konflik dengan masyarakat pendatang, maka kita perlu mengevaluasi cara kita menjalankannya. Bukan karena kita malu dengan adat. Justru karena kita menghormati adat.


Jangan sampai rotan lebih kuat daripada Fagogoru. Menurut saya, ini harus menjadi prinsip utama. Rotan hanyalah alat. Topeng hanyalah simbol. Cogo Ipa jauh lebih besar daripada keduanya. Nilai yang harus terlihat adalah persaudaraan, penghormatan, kesopanan, pengendalian diri, dan semangat Fagogoru.


Jangan sampai orang mengenal Cogo Ipa hanya karena “dipukul”, tetapi tidak lagi mengenal nilai yang ada di baliknya. Kalau seseorang menggunakan Cogo Ipa untuk menyakiti secara berlebihan, mempermalukan orang lain, membalas dendam, atau memancing perkelahian, maka kita harus berani mengatakan, itu bukan semangat Fagogoru.


Kita memang memiliki kewajiban menjaga adat. Tetapi orang yang datang dari luar Halmahera Tengah tidak otomatis memahami Cogo Ipa sebagaimana kita memahaminya.


Mereka mungkin tidak tahu kapan Cogo Ipa berlangsung, apa makna topeng, mengapa ada rotan, atau bagaimana seharusnya bersikap ketika bertemu Cogo Ipa. Jika mereka panik atau salah memahami, jangan langsung kita anggap sebagai penghinaan terhadap adat.


Kita juga perlu bertanya, sudahkah kita menjelaskan adat kita kepada mereka?Menurut saya, sebelum Cogo Ipa berlangsung, masyarakat pendatang, pekerja perusahaan, anak kos, dan masyarakat umum perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai waktu, wilayah, makna, dan aturan pelaksanaannya.


Khusus perusahaan yang memiliki banyak pekerja dari luar daerah, sosialisasi ini perlu dilakukan secara langsung. Kita menjaga adat, tetapi kita juga menjaga keamanan orang lain. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Karena itu, saya cukup senang mengetahui keluarga Pnu Were, para pemuda, dan tetua berembuk untuk merumuskan aturan main Cogo Ipa.


Saya selaku pemuda Were merasa terpanggil untuk mengutarakan beberapa gagasan untuk dipertimbangkan. Dengan tidak bermaksud menjadikan Cogo Ipa terlalu kaku hingga kehilangan suasana dan keunikannya. Tetapi Weda hari ini membutuhkan batas yang jelas.



Pertama, pukulan harus memiliki batas. Tidak boleh dilakukan dengan niat mencederai, menggunakan kekuatan berlebihan, atau menyasar bagian tubuh yang berbahaya.


Kedua, Cogo Ipa tidak boleh menjadi sarana balas dendam atau penyelesaian masalah pribadi.


Ketiga, anak-anak kecil, orang lanjut usia, orang sakit, penyandang disabilitas, dan kelompok rentan harus mendapat perlindungan.


Keempat, Cogo Ipa harus dijauhkan dari mabuk-mabukan, senjata berbahaya, dan tindakan yang bertentangan dengan nilai Islam. Jangan sampai sesuatu yang lahir dari tradisi keagamaan justru kehilangan nilai keagamaannya.


Kelima, perlu ada batas waktu dan wilayah yang jelas. Tidak semua jalan dan ruang publik (pasar, pertokoan, dan lain-lain) harus menjadi arena Cogo Ipa.


Keenam, perlu ada tim pengatur yang terdiri dari orang-orang yang memahami adat dan bertugas menjaga ketertiban, mencegah tindakan berlebihan, serta membantu jika terjadi persoalan.


Dan yang tidak kalah penting, aturan tersebut harus disosialisasikan sebelum Cogo Ipa berlangsung. Dengan begitu, masyarakat lokal memahami batasnya dan masyarakat pendatang memahami apa yang sedang berlangsung.


Apa yang telah dimulai oleh basudara Pnu Were bagi saya merupakan langkah yang menunjukkan generasi Weda produktif menjaga budaya dan identitas lokal di tengah gempuran dinamika masyarakat urban. Saya kembali mengusulkan agar kita tidak hanya membuat aturan untuk satu kali pelaksanaan.


Mari kita susun pedoman pelaksanaan Cogo Ipa Weda melalui musyawarah bersama. Segera meletakkan Pemangku Adat Weda agar dalam perumusan bisa melibatkan tetua adat Weda, bila perlu Weda-Patani dan Maba, tokoh agama, pemerintah, pemuda, perempuan, tokoh masyarakat, aparat keamanan, dan bila perlu perwakilan masyarakat pendatang serta pihak perusahaan.


Bukan untuk mengambil alih adat dari para tetua, justru untuk memastikan adat memiliki pedoman yang dapat dipahami oleh generasi sekarang. Karena masyarakat Weda akan terus berubah. Dan adat yang hidup adalah adat yang mampu menjaga ruhnya sambil menemukan cara untuk tetap relevan dengan zamannya. Saya kira ini adalah tanggung jawab terbesar generasi muda. Di zaman hari ini, pemuda sudah harus menjadi pilar utama dalam menjaga nilai leluhur.


Kita tidak boleh hanya bangga ketika memakai topeng Cogo Ipa. Kita harus memahami mengapa kita memakainya. Kita tidak boleh hanya tahu bagaimana memegang rotan. Kita harus tahu kapan rotan itu digunakan dan kapan harus ditahan. Kita tidak boleh hanya tahu bagaimana mengejar. Kita harus tahu bagaimana menghormati orang yang kita kejar. Karena menjadi pemuda Fagogoru bukan hanya tentang keberanian. Keberanian tanpa pengendalian diri bukanlah kebanggaan.


Pemuda yang benar-benar menjaga adat adalah pemuda yang mampu mempertahankan tradisi sekaligus menjaga nama baik tradisi itu sendiri. 


Saya mencoba membayangkan jika suatu hari nanti anak cucu kita bertanya: “Mengapa Cogo Ipa tidak boleh lagi dilakukan?” 


Lalu kita menjawab: “Karena dahulu terlalu banyak konflik.”


Saya ingin kita meninggalkan cerita yang berbeda, bahwa pernah ada generasi muda Weda yang menyadari bahwa zaman berubah tetapi mereka tidak meninggalkan adat, mereka tidak malu dengan identitas Fagogoru, mereka tidak menghapus Cogo Ipa.


Tetapi mereka memperbaiki cara menjalankannya agar tetap hidup di tengah masyarakat yang semakin besar dan beragam. Karena mempertahankan tradisi bukan berarti mempertahankan setiap bentuknya tanpa berpikir. Mempertahankan tradisi berarti menjaga ruh dan nilai agar tetap hidup.


Kalau ruh Cogo Ipa adalah persaudaraan, keislaman, penghormatan, kebersamaan, dan identitas Fagogoru, maka itulah yang harus kita jaga paling kuat. Topeng boleh tetap menjadi topeng. Rotan boleh tetap menjadi bagian dari permainan. Cara pelaksanaan boleh disesuaikan. Aturan boleh diperbaiki.


Tetapi jangan sampai semangat persaudaraan hilang. Sebab pada akhirnya, kita tidak sedang mempersiapkan Cogo Ipa untuk satu tahun. Kita sedang menentukan Cogo Ipa seperti apa yang akan kita wariskan kepada generasi Fagogoru berikutnya.


Salam dari seorang pemuda Were yang mungkin tidak hadir di ruang musyawarah, tetapi tetap ingin ikut menjaga adat, agama, persaudaraan, dan tanah kelahirannya.(*)



Lebih baru Lebih lama