Nyanyian Burung Bidadari Terakhir

Ilustrasi 

Oleh: Firmansyah Usman


Di negeri Sawai, Halmahera, orang-orang memandang hutan dan deretan bukit dengan pasrah, menunggu giliran untuk diratakan. Namun, Olan, bocah sembilan tahun bermata sehitam biji pala Patani, menatap keindahan yang sama dengan cara yang berbeda.


Entah pada malam keberapa di bawah gerimis Mei 2024, Weka mendatangi Olan yang sedang terlelap. Dengan kepakan sayap, kibasan dua bulu putih panjang yang bergetar, serta kilau cokelat zaitun bermotif purba di tubuhnya.


"Kami menari menyambut matahari, Olan," bisik Weka malam itu, dengan suara yang berbunyi seperti benturan kerikil halus di dasar Sungai Ake Jira. "Jika kami berhenti menari, maka segalanya telah binasa."


Sejak malam itu, dunia Olan benar-benar berubah. Ia tak lagi berkumpul bersama teman-temannya untuk sekadar bercerita atau berdebat tentang ekskavator, loader, dan berbagai alat berat lainnya. Dulu, mereka sering bangga jika ayah mereka bisa mengoperasikan alat berat. Bahkan, mereka bercita-cita menjadi buruh tambang yang bekerja sebagai operator alat-alat raksasa itu.


Dunia Olan adalah Weka yang datang dalam mimpi setiap malam, dan menjelang fajar, mendengar nyanyian dan melihat tarian Weka di antara dedahan pohon menyambut sinar pertama matahari.


Cenderawasih Halmahera itu melompat, mengepakkan sayap zaitunnya, dan mengibaskan selendang putihnya kedalam tarian magis yang membuat waktu berhenti seketika. Suara chick-chick-nya merambat di antara batang pohon, memanggil bunga-bunga begonia, kenanga, anggrek hutan, kantong semar untuk mekar lebih cepat dari takdirnya. Selama satu tahun penuh, tarian itu menjadi rahasia terbesar antara seorang bocah dan seekor burung yang membawa separuh nyawa hutan yang tak jauh dari belakang rumahnya itu.


Ayah Olan, pekerja tambang dengan kulitnya yang telah mengeras oleh debu nikel dan napasnya berbau seperti gas bensin, selalu tertawa kecil setiap kali anaknya itu bercerita tentang Weka di meja makan.


Sebaliknya, ibu Olan, yang seluruh hidupnya berputar di antara asap tungku dan aroma tajam di dapur, selalu mendengarkan cerita anaknya itu dengan tenang. Dan sang ibu kerap berkata lembut, "Jika burung itu sungguh sahabatmu, Olan, mengapa tidak kau bawa dia ke rumahmu ini?


Olan menunduk diam di meja makan, ia teringat kejadian pagi tadi di sekolah, ketika semua anak bangga menggambar alat-alat berat, hanya Olan yang melukis Weka bertengger di dahan kenanga. Namun gurunya menggeleng, lalu meminta Olan segera mengganti gambarnya agar sama seperti teman-teman yang lain.


Malam jatuh dengan sempurna. Udara Kampung Sawai belum sepenuhnya diselimuti kabut debu maupun hembusan awan hitam dari cerobong beton, sementara bintang fajar mulai tampak di ufuk timur. Kampung itu tak pernah tidur, selalu riuh oleh hilir mudik kendaraan dan pergantian jam kerja para karyawan. Di sepanjang jalan, ruko, kios, hingga lapak pedagang masih berdenyut hidup. Kafe dan tempat hiburan pun tetap ramai. Suasananya begitu mirip dengan Sihanoukville di Kamboja.


Weka datang dalam mimpi Olan. Bidadari itu tak mengepakkan sayap. Tidak juga menari. Ia bersuara pilu, “Kerrr-wooo... kerrr-wooo... shhh-kweeir...” lalu tiba-tiba sahabatnya itu hilang. Olan terperanjat dari tidurnya. Bergegas keluar dari rumah, lalu berlari ke arah hutan. Riuh deru alat berat terdengar. Kesunyian pecah. Suara dentuman pohon tumbang bersahut-sahutan.


Dengan napas memburu, Olan menembus kabut pagi dan semak-semak yang sudah porak-poranda oleh lintasan eksavator. Mendadak Olan berhenti, jantungnya seolah tak lagi berdenyut. Pohon kenanga tua masih berdiri, dan Weka terlihat melompat dari satu dahan ke dahan yang lain. Ia tak mengepakkan sayapnya sebagai tanda akan melakukan ritual magis. Melainkan Weka nampak panik. Suara chick-chick-nya tak beraturan. Ia menolak alat berat yang akan menumbangkan tempat bertenggernya itu.


Weka tak terbang menjauh, ia meluncur lepas ke arah Olan. Terbang mengitarinya. Jelas, Weka memintanya pergi. Tepat saat Olan mengetahui keinginan Weka, dentuman keras bertubi-tubi terjadi. Bongkah tanah merah dan bebatuan menghempas tubuh kecilnya hingga tersungkur jauh di antara semak-semak. Weka pun terkulai kaku di atas tubuhnya.


Menjelang siang, raungan alat berat akhirnya mereda. Ayah Olan turun dari kabin ekskavatornya. Ia terlihat bangga setelah segalanya luluh lantak. Namun, kebanggaan dirinya itu menguap seketika saat pandangan matanya tertumpu pada tubuh kecil terkulai kaku di antara semak-semak.


Seketika lututnya lemas saat melangkah mendekati tubuh kaku itu. Anak tunggalnya terbujur dingin, mendekap erat seekor burung bidadari berbulu zaitun di dadanya. Sang ayah melolong histeris, raungannya memecah kesunyian hutan yang telah luluh lantak. Ia baru menyadari bahwa alat berat yang dikendarainya tak hanya meratakan tanah kelahirannya, tetapi juga telah merenggut nyawa satu-satunya masa depan yang ia miliki.


Weda, 25 Juli 2026

Lebih baru Lebih lama